[Tips] Menghilangkan Bau Setelah Memakan Durian

durian

Bismillah..

Siapa sih yang tidak kenal durian? Buah dengan kulit durinya yang tajam serta baunya yang khas menyengat hidung. Eitts.. jangan salah, buah yang satu ini ternyata banyak juga lo penggemarnya. Termasuk yang nulis. Hehe…

Suatu ketika, saya dan keluarga berkunjung ke rumah rekanan di daerah Jepara. Dan waw! disana kami disuguhi hidangan istimewa, yakni durian (Ya iyalah, lah wong bakul duren.. hehe). Bagi penggemar durian pastinya tidak menunggu lama untuk menyantapnya. Satu buah habis, belah satu lagi, habis lagi, belah lagi dan begitu seterusnya. Daaaaaaaaaaaan… tak bisa dipungkiri bau yang menyengat yang dihasilkan dari buah durian itu tetap setia menempel di mulut dan tangan kami.

Bukan dengan air biasa kami mencucinya, bukan pula dengan sabun dengan tingkat anti bakteri yang paling mutakhir untuk menghilangkannya. Lalu? Ternyata, menghilangkan bau durian itu sangat mudah dan sangat simple. Yakni dengan mencuci tangan dengan kulit duriannya. Nah loo.. bingung ya. Gini lo, bagian dalam kulit yang buah duriannya biasa ‘nangkring’, yang bentuknya cekung itu diisi dengan air matang. Kemudian aduk air matang tersebut dengan kedua tangan kita lalu minum airnya. Terbukti! Bau duriannya langsung kaburrrrrr. Gag percaya? Buktikan sendiri dan tentunya bagi-bagi yaa saat makan duren. *cengir*

NB: saya sendiri juga tidak tau persis kenapa kulit durian bisa menghilangkan bau durian. Kalau ada yang tau, silahkan share di kolom komentar. Tips ini diperoleh dari teman.

Advertisements

Larangan Mencela HUJAN part I

Minggu, 20/11/2011

Akhir pekan yang biasanya digunakan untuk bersantai dan bersenang- senang dengan keluarga, jalan- jalan dengan teman tidak berlaku untukku dan teman- teman seperjuangan di AKP Widya Buana. Kami adalah sekumpulan orang- orang yang ingin menimba ilmu di sela kesibukan kami mengarungi dunia kerja. Semua mahasiswa di sini adalah seorang pekerja dan dari daerah yang berbeda- beda. Aku bertiga dengan temanku adalah mahasiswa yang berasal dari daerah Cilacap. Sedangkan tempat di mana kami menimba ilmu adalah berada di daerah Purwokerto yang berjarak sekitar 5o km dari kota Cilacap dan dapat ditempuh dalam kurung waktu 1 jam perjalanan dengan kecepatan sedang.

Alhamdulillah minggu ini kami berjuang mengarungi aspal- aspal jalanan dengan rintik- rintik hujan. Tentu saja mantel anti air siap kami kenakan. Aku senang jika hujan karena setahuku hujan adalah nikmat dan salah satu waktu di mana doa dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tapi sayang, salah satu temanku ada yang berkata begini “Yah.. hujan, gagal deh acarane” atau “Hujan lagi, hujan lagi” dan kalimat menghujat hujan lainnya. Kasihan hujan, ia adalah nikmat namun sering dikambinghitamkan.

Ketika turun hujan, kita harus mensyukurinya karena itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala. Sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat hujan ini, sebaiknya kita mengilmui berbagai amalan yang semestinya dilakukan ketika hujan turun.

Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan

Apabila Allah memberi nikmat dengan turunnya hujan, setiap muslim dianjurkan untuk membaca doa berikut :

“Allahumma shoyyiban naafi’aa” ~ Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat~

Doa tersebut selalu diucapkan oleh  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika turun hujan, hal ini berdasarkan hadist yang dibawakan oleh Ummul Mukminin, Aisyah Radhiyallahu’anhu.

Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.”

Al Khottobi mengatakan, ”Air hujan yang mengalir adalah suatu karunia.”

Memanjatkan Doa

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

’Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”’

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.”

Mengambil berkah dari air hujan

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.”

An Nawawi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”

Dalam hal mencari berkah dengan air hujan dicontohkan pula oleh sahabat Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata.

”Apabila turun hujan, beliau mengatakan, ”Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”.” Lalu beliau membacakan (ayat) [yang artinya], ”Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf [50] : 9)”

Ibnu Qudamah mengatakan, ”Dianjurkan untuk berwudhu dengan air hujan apabila airnya mengalir deras.”

Berdoa setelah turun hujan

Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.”

Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, ”Tidak boleh bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam jika ia meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun kalau menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini termasuk kufur ashgor (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang hanya sekedar waktu semata.”

Demikianlah pemaparan tentang amalan-amalan yang dilakukan sebagai wujud syukur atas nikmat hujan.

Nah, teman-teman masihkah kalian mencela hujan? Sedang nikmat Allah begitu banyak dan nikmat hujan ini adalah secuil dari nikmat Allah.

Salam sayang ^^