[Laa Ba’sa Thahurun] Nikmat Sehat Yang Sering Dilalaikan

jamBismillah…

Akhawati fillah kaifa haluki? Mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala dan selalu diberi kesehatan oleh Allah. Alhamdulillah kita semua masih bisa menghirup udara segar di tahun 2013 ini.

Senang yaa rasanya kalau melihat orang tua kita sehat, anak-anak sehat, istri/suami juga sehat dan memiliki banyak waktu untuk urusan dunia dan akhiratnya. Dua nikmat ini sering dilalaikan oleh manusia, termasuk saya ini. Yakni nikmat sehat dan waktu luang.

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Seseorang tidaklah memiliki waktu luang jika badannya tidaklah sehat. Siapa saja yang memiliki dua kenikmatan ini hendaknya janganlah sampai tertipu dengan meninggalkan syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikannya. Bersyukur dengan menjalankan perintahNya dan bersyukur dengan meninggalkan apa yang menjadi laranganNya. Barangsiapa yang luput dari syukur tersebut maka dialah orang yang tertipu.

Sebagian besar orang bilang bahwa nikmat sehat itu akan lebih terasa ketika kita dalam keadaan sakit. Sepertinya hal ini tidak seratus persen salah, karena saya sendiri juga merasakan hal demikian. Kesehatan itu sangat terasa berharga ketika badan ini lemas terkulai tak berdaya. Ketika tangan ini kaku digerakkan karena selang infus tidak bisa dinego untuk dilepaskan.

Mengawali tahun 2013 tepatnya tanggal 01 Januari 2013, saya ‘ngekost’ di rumah sakit karena typus. Sungguh, hal ini sangat tidak mengenakkan. Badan terasa kaku semua, aktivitas terganggu. Memang ada benarnya perkataan orang bahwa nikmat sehat akan terasa ketika kita dalam keadaan sakit. Saat badan terbaring lemah di atas ranjang kamar rawat inap itu sangat terasa betapa berharganya sehat itu.

Bicara tentang sehat, kita semua pasti sering mendengar bahwa Sehat itu Mahal Harganya. Saya sendiri telah mengalami dan merasakannya. Bukan masalah mahal dalam nominal tetapi terlebih karena betapa menderitanya ketika sakit dan tak luput kita membayangkan begitu nikmatnya ketika sehat. Apa yang dapat dilakukan oleh orang sehat, tak bisa dilakukan oleh orang sakit. Ketika sehat kita biasa melakukan pekerjaan rumah ini dan itu, mengurus suami dan anak-anak, bekerja di kantor dan lain sebagainya. Namun ketika sakit, hmmm… hanya tergeletak lemas di atas tempat tidur. Saudaraku, jangan pernah terlewatkan syukur atas nikmat yang tiada tara ini. Bersyukur dengan cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Kalau badan kita sehat, kita juga bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik. Setuju! Ayo kita terapkan gaya hidup sehat. ^_^

Advertisements

Ketika Bos Naik Haji

Bismillah …

Alhamdulillah tanggal 07 Oktober 2012 lalu atasan saya beserta istri telah tiba di tanah air setelah berhari-hari menunaikan rukun Islam yang kelima. Mudah-mudahan orang-orang yang mampu lainnya bisa tergugah hatinya untuk mengikuti jejak baik atasan saya ini. Beliau adalah Pak Irvan beserta istrinya. Saya dan teman-teman kantorpun beranjak untuk berziarah ke rumah beliau. Eittt.. bukan mau minta oleh-oleh lho yaaa *dikit ngarep sih*. Berziarah ke rumah orang yang baru pulang haji salah satu tujuannya adalah untuk menumbuhkan keinginan yang kuat untuk menyusulnya ke tanah suci (memantapkan niat untuk berhaji, tidak putus asa untuk mengunjungi Baitullah). Selain itu, kita juga dapat menimba ilmu darinya. Alhamdulillah, Pak Irvan beserta istri bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu dan pengalaman sehingga semangat ‘menabung’ haji kembali membara. Bukankah orang yang mampu itu belum tentu kaya? Orang yang kaya juga belum tentu mampu.

Menunaikan rukun Islam yg kelima memang tidak semua orang mampu menjalankannya. Dalam hal ini bukan semata-mata mampu dari segi ekonomi (biaya haji) buktinya, banyak di sekitar kita orang kaya raya tapi mereka belum ‘berani’ menunaikannya. Dan, ada pula yang rumahnya gubuk namun sudah mampu berhaji. Di sisi lain, banyak orang yang sangat ingin berkunjung ke tanah Mekkah namun terbentur biaya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Berhaji menghabiskan waktu kurang lebihnya 40 hari (kecuali haji plus). Otomatis selama kurun waktu itu atasan kami meninggalkan kantor untuk memenuhi panggilan Allah. Daaaaan pastinya di kantor itu TIDAK ADA BOS. Asiiik.. Upss.. maksud sayaaaa.. hmmm.. yaaa gitu deh. Bukannya senang tidak ada bos tapi ya bisa dibilang bisa lebih ikhlas kerjanya. Loh kok bisa? Kalau ada bos secara tidak langsung kita bekerja bukan dengan maksud ibadah namun karena ada yang mengawasi yakni atasan kita. Ketika atasan tidak ada di kantor kita lebih rileks dan santai kerjanya. Sebagian besar kenyataannya memang seperti itu bukan? Kita akan bekerja dengan rajin bahkan sampai cari muka di hadapan boss namun ketika atasan keluar/tidak berada di tempat, kerjanya bersantai-santai ria bahkan merasa bebassss. *Jangan ikut-ikutan yaa*. Ya.. Begitulah manusia, suka mencari muka untuk kepuasannya sendiri. Suka bermanis muka untuk mencuri perhatian bos.

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap bos semesta alam, Allah Ta’ala? Sudahkah kita bermanis-manis untuk mencuri perhatian agar makin dicintai oleh Allah? Jika kita melakukan suatu pekerjaan kantor dengan sungguh-sungguh hanya karena ada atasan yang mengawasi, seharusnya kita dalam melakukan kewajiban sebagai hamba Allah lebih bersungguh-sungguh menjalankannya karena ada atasan semesta raya yang tidak pernah tidur dalam mengawasi kita dan seluruh makhlukNya.

Ketika atasan kantor memanggil kita, dengan cepat kita melangkah agar beliaunya tidak marah. Sudahkah kita berlari-lari mengejar panggilan Allah? Jika adzan berkumandang, sebagian kita ada yang menyelesaikan kerjaan dululah, nanggung lah, nanti dulu lah, mau ini itu dulu lah dan macem-macem alasan untuk memenuhi panggilan Allah tepat waktu. Tanpa berpikir kalau Allah akan marah.

Teman-teman.. Mari kita luruskan lagi niat kita dalam beribadah. Ibadah itu adalah nutrisi hati, bukan ajang untuk riya. Tautkan dalam hati bahwa Allah sebagai pencipta dan pengatur semesta ini tidak pernah tidur dalam mengawasi seluruh hambaNya. Jika kita sungkan untuk melanggar aturan-aturan atasan, seharusnya kita lebih sungkan kepada Allah yang mengatur semesta. Jika takut atasan kita akan marah jika kita membangkang, seharusnya kita lebih takut jika Allah marah karena ulah kita sendiri. Yukk teman-teman saatnya kita berbenah. *senyum

salam
-tant-

                                                ~Parfum oleh-oleh haji~

Hadiah, Menumbuhkan Rasa Cinta

Bismillah…

Teman-teman… kali ini saya mau bercerita tentang hadiah-hadiah yang pernah aku terima dari orang-orang yang aku sayangi. Bukannya maunya cuma menerima saja tanpa mau memberi. Bukankah setiap pemberian yang kita berikan ke oranglain itu harus dilupakan? Hal ini untuk menghindari perbuatan mengungkit-ngungkit pemberian. Alhamdulillah sebelum Idul Fitri 1433 H kemarin dapat oleh-oleh dari teman seruangan saya. Teman saya ini habis berkunjung dari negara tetangga yakni ke Seoul, Korea Selatan. Hadiah yang diberikannya semuanya bermanfaat bagi saya, potongan kuku, tatakan gelas, pembatas buku dan tas kantong kecil. Senang sekali rasanya dapat perhatian dari si Mbak Cantik ini. Ini hanya contoh kecil dari banyaknya hadiah yang ada. Jazakillahu khair semuanya.

pembatas buku dari korea

oleh-oleh dari korea ni

Hadiah memang diperbolehkan dalam Islam. Terlebih hadiah mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan kita sebagai warga yang bermasyarakat. Hadiah bisa menumbuhkan rasa cinta, mempererat tali persaudaraan, meningkatkan kasih sayang diantara sesama manusia dan banyak pengaruh-pengaruh lainnya. Hadiah bisa juga diartikan sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian terhadap orang yang kita sayangi. Hadiah sebagai bukti rasa cinta dan penghormatan terhadap orang lain. Iya kan? Coba kita lihat di kehidupan kita sendiri, saat bepergian kita ingin membelikan buah tangan untuk orang-orang yang nempel di memori kita. Artinya, bila kita menerima hadiah dari orang lain berarti kita diingat oleh si pemberi. Dannn jangan lupa bilang, Jazakillahu khair yaa ketika menerima hadiah dari orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam dalam sabdanya :
“Hendaknya kalian saling memberi hadiah,niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan Shahihul Jami’ Ash Shaghir [158])

Nah, orang yang menjadi teladan kita dalam segala lini kehidupan saja memerintahkan kita untuk saling memberi hadiah. Saat kita menerima kebaikan, hendaknya dibalas dengan kebaikan yang semisalnya.

HUKUM MEMBERI HADIAH.

Hukum asal memberi hadiah adalah boleh selama tidak ada penghalang dalam syariat. Menjadi sunnah ketika hadiah itu untuk mewujudkan perdamaian usai adanya permusuhan, untuk menciptakan rasa saling sayang dan cinta antar sesama dan untuk membalas pemberian oranglain. Berubah pula hukumnya menjadi haram ketika hadiah diberikan untuk sesuatu yang melanggar syariat dan untuk tujuan yang haram, dalam hal ini suap termasuk di dalamnya.

HUKUM MENERIMA HADIAH.

Menerima hadiah menurut pendapat yang kuat hukumnya adalah wajib, selama hadiah yang diberikan tidak melanggar syariat dan bukan sesuatu yang haram dan selama tidak ada alasan menurut syariat untuk menolaknya. Kewajiban ini sebagaimana perintah Rasulullah, dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya : “Penuhilah undangan, janganlah kalian menolak hadiah dan janganlah pula kalian memukul kaum muslimin.” [HR Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v].

Hadiah yang diberikan untuk tujuan yang haram maka jelaslah keharamannya. Misal, kita memberikan hadiah kepada pengusaha dengan harapan dia bisa dapat tender atau anaknya bisa dipekerjakan ke dalam perusahaannya, memberi hadiah supaya urusan tagihan dimudahkan dan segala macam bentuk suap dari yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Semoga mereka-mereka yang terlalaikan dengan hal ini segera mengingat Allah, segera ingat bahwa Allah tidak pernah tidur, Allah Maha Melihat setiap jeli kehidupan baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi.

Memberikan hadiah sangatlah dianjurkan untuk menciptakan suasana ‘hangat’ antar sesama, menumbuhkan rasa saling sayang dan cinta kasih. Menambah hubungan baik sesama teman. Nah, teman-teman… jangan lagi merasa gengsi memberi hadiah kepada suami/istri kita. Hal ini akan menjaga rasa cinta diantara dua insan dalam bahtera rumah tangga. Memberi hadiah kepada sesama manusia sangat dianjurkan oleh Rasulullah apalagi hadiah untuk suami/istri yang kita sayangi. Tentu efek sampingnya lebih terasa. *senyum*

kue kering dari ruang kerja sebelah

Serba Serbi Lebaran, Idul Fitri 1433 H

Bismillah …

Alhamdulillah hari kemenangan akan segera hadir di hadapan kita. Sedih karena kita juga akan berpisah dengan Ramadhan, bulan dimana kita selama satu bulan penuh diwajibkan untuk berpuasa dan banyaknya janji pahala dari Allah di bulan Ramadhan. Sudahkah kita melewatkan dengan rangkaian ibadah ataukah kita melewatkannya dengan sia-sia? Silahkan teman-teman untuk merenungkannya.

Nuansa lebaran, toko-toko baju kian ramai dikunjungi

I’ed atau lebaran adalah hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Banyak orang ‘menjadi’ sibuk menyambut datangnya hari penuh suka cita. Para wanita sibuk membuat kue guna menyambut saudara yang berkunjung ke rumah, sibuk membersihkan dan merapikan rumah, tak lupa pula sibuk berbelanja baju baru untuk anak-anaknya. Bapak-bapaknya pun sampai ikut terjun membantu sang istri di rumah. Para pekerja dan penuntut ilmu di perantauan pun tak lepas dari merayakan hari I’ed baik silaturrahmi dengan telepon maupun dengan pesan singkat di layar monitor hp, hubungan buruk sebelum lebaran pun membaik dengan bersalam-salaman dan saling memaafkan. Mudik atau pulang kampung menjadi tradisi yang dirindukan oleh kaum muslimin yang ingin merayakan kemenangan di kampung halaman. Di tengah kesibukan dan kebahagiaan terkadang mengantarkan mereka pada lalai akan makna Idul Fitri itu sendiri, lalai mempersiapkan apa yang harus mereka kerjakan di hari I’ed.

Apa saja kah yang harus kita kerjakan sebelum berjalan menuju lapangan (masjid) untuk melaksanakan sholat I’ed?

Pertama. Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat ke lapangan (masjid). Disunnahkan untuk bersuci agar tidak menimbulkan bau badan yang tidak sedap dan tidak menganggu orang-orang di sekeliling kita. Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Thalib yang ditanya perihal mandi, maka beliau menjawab : “Mandi (seyogyanya dilakukan) pada hari Jumat, hari arafah (wuquf), hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri.” [HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad (114), dan Al- Baihaqy (5919)]

Kedua. Memakai pakaian bagus dan berhias dengannya. Pakaian bagus tidak selalu baru. Jika tidak berkemampuan membeli baju baru maka cukuplah berbenah lemari pakaian mengambil baju yang masih bagus dan rapi. Toh, baju baru bukanlah suatu kewajiban untuk merayakan I’ed, bahkan kita dilarang untuk berboros-boros dalam menyambut kedatangan I’ed.

Ketiga. Dianjurkan untuk makan sebelum berangkat ke lapangan (masjid). Sebelum berangkat ke lapangan dianjurkan untuk makan (diutamakan kurma) sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahi ‘alaihi wa salam pada hari idul fitri. Adapun ketika Idul adha maka tidak dianjurkan makan sebelum sholat I’ed.

Keempat. Dianjurkan untuk bertakbir menuju lapangan.

Keempat hal di atas sering dilewatkan oleh kaum muslimin. Dan masih banyak lagi teladan Rasulullah perihal Idul Fitri.

Lebaran mempunyai makna tersendiri bagi tiap-tiap orang. Ada sebagian yang merayakannya secara berlebihan, berboros-boros dalam membelanjakan harta bahkan menghalalkan segala cara untuk mencari uang “lebaran”. Seperti yang sering kita dengar dengan semakin maraknya pencurian, perampokan dan tindak kriminal lainnya. Padahal lebaran tidak selalu seputar tentang uang dan “uang saku”, makanan enak dengan terhidangnya kue-kue khas lebaran, baju baru dan berkumpulnya keluarga besar. Ada pula yang mengkhususkan bersedekah pada hari lebaran, padahal bersedekah tidak mengenal waktu.

Berbelanja di saat lebaran memang tidaklah dilarang. Orang-orang berbondong-bondong meramaikan pusat-pusat perbelanjaan. Boleh memang. Asalkan tidak lalai akan sholat ketika sudah memasuki waktunya. Terlalu asik berbelanja bisa melalaikan seseorang akan kewajibannya untuk menunaikan sholat lima waktu, bahkan ada yang sengaja mengqashar sholat hanya untuk khusyuk berbelanja. Wal’iyadzubillah. Hendaknya kaum muslimin di seluruh penjuru dunia yang akan merayakan lebaran tidaklah menghambur-hamburkan uang dengan sia-sia. Ingatlah bahwa di luar sana masih banyak orang yang kebingungan menyiapkan santapan untuk menyambut lebaran. Jangankan ketupat, makanan untuk berbuka puasa belum tentu ada.

Mari kita merayakan hari kemenangan dengan hati yang bersih, suci dan menjadi motivasi kita untuk lebih dan lebih lagi dalam memperbaiki diri, memperbaiki ibadah dan memperbaiki hubungan baik dengan Allah Ta’ala.

Janganlah Agama Itu Dijadikan Bahan Olok-Olokan

Bismillah ..

Ngelus dada dulu sebelum nulis, soalnya nulis sambil manyun nih. Sabarrr.. daripada marah-marah ke orang nggak jelas dan kurang ilmu mending saya marah-marah disini. Ups.. maksud saya curhat disini. *senyum*

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At Taubah 9 : 65-66)

Tahukah Anda sebab turunnya ayat ini?

Dahulu ada sekelompok manusia yang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Di dalam suatu majelis mereka mengatakan,

“Kita tidak pernah melihat seperti para pembaca Al Qur’an kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya, paling penakut ketika bertemu musuh”,

Yang mereka maksudkan dengan ucapan mereka itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Pada waktu itu di antara mereka ada seorang dari kalangan sahabat, maka sahabat ini pun marah dengan ucapan mereka ini. Dia pun pergi dan melaporkan apa yang terjadi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelum dia sampai kepada Rasulullah, wahyu telah turun mendahuluinya.

Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta maaf. Berdirilah salah seorang dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan,

“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa penat dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau,”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikit pun kepadanya dan beliau hanya membacakan ayat tadi.

Kalau ada yang mengatakan, “Ini kan cuma bercanda, orangnya kan mungkin tidak punya niat untuk mencela atau merendahkan. Cuma guyon saja kok..”

Maka kita katakan bahwa kasusnya sama saja dengan kisah Perang Tabuk yang telah kita sampaikan di atas. Orang yang mengolok-olok Rasulullah dan para sahabat tadi juga mengemukakan alasan yang serupa,

“Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.”

Oleh karena itu saudaraku seiman, hendaknya kita jaga lisan dan sikap kita dari menjadikan perkara agama, atau simbol-simbol agama sebagai bahan candaan dan olok-olok.

Apakah tidak ada bahan candaan lain sehingga perkara yang semestinya kita agungkan dan kita sakralkan ini pun kita jadikan bahan olok-olok?

(sumber: rizkytulus.wordpress.com)

Perkara agama dijadikan bahan olok-olokan kini semakin menjadi hal yang biasa. Parahnya lagi, yang menjadikan agama sebagai bahan candaan dan olok-olokan adalah orang Islam itu sendiri. Naudzubillah. Itulah salah satu nikmat ilmu sebagai pelindung kita dari hal-hal yang dianggap kecil namun berakibat fatal.

Seperti yang sering kita saksikan di kalangan masyarakat bahwa perempuan yang memakai cadar sering diejekin “ninja..ninja atau bahkan kuntilanak” dan lelaki yang berjenggot dengan memakai celana di atas mata kaki diejekin dengan “si jenggot atau aliran katok cungklang (celana di atas mata kaki) bahkan ada yang memanggilnya embek (suara kambing)”. Naudzubillah.. perkara ini adalah penghinaan besar terhadap sunnah Nabi. Sedihnya lagi, yang melakukan perkara tersebut adalah orang Islam yang melakukan sholat dan mereka tidak merasa berdosa sama sekali. Ingatlah bahwa pakaian yang baik di mata masyarakat belum tentu baik di mata Allah. Seharusnya mereka patut berbangga dan berusaha meniru mereka yang telah mampu mengamalkan ajaran Nabinya. Bukan malah mengolok-olok dan mengejeknya.

Teman-teman, tahukah kalian bahwa perkara di atas adalah termasuk bentuk ISTIHZA’ yakni berolok-olok dalam perkara agama yang dilarang keras di dalam Islam bahkan ditakutkan pelakunya bisa murtad, keluar dari Islam.

Mengapa bisa menyebabkan pelakunya murtad?

Seperti yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, bahwa “Sesungguhnya berolok-olok dengan Allah, ayat-ayatNya dan rasul-Nya mengeluarkan seseorang dari agama karena pondasi agama ini dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, pengagungan terhadap agama dan Rasul-RasulNya. Maka berolok-olok dengan perkara tersebut menafikan pondasi agama dan benar-benar membatalkannya.” (Tafsir As Sa’di, At Taubah: 65-66).

Mari kawan-kawan kita filter lagi bahan candaan kita. Carilah bahan gurauan dengan tidak membawa agama dan sunnah Nabi. Bagi akhwat yang sedang belajar mengenakan hijab dan cadar seperti saya ini jangan menyerah, tak usah hiraukan omongan dan olokan dari tetangga dan kerabat. Menggenggam bara api itu memang butuh perjuangan dan kegigihan, tetaplah berpegang teguh dengan agama dan ajaran Islam.

Dan bagi ikhwan yang berjenggot dan celana ngatung, tetaplah istiqomah di atas sunnah. Jangan gontai akan terpaan badai lidah yang pahit.

-tanti-

Menyambut Ramadhan 1433H, Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan Dalam Pandangan Sunnah

Bismillah..

Kaifa haluki ya akhwati fillah? Semoga teman-teman muslim dan muslimah seluruhnya selalu dalam lindungan Allah Ta’ala. Aamiin. Salah satu nikmat Allah yang paling besar adalah nikmat sehat dan waktu luang. Dengan tubuh yang sehat kita dapat beraktivitas dengan baik dan penuh semangat. Adanya waktu luang dapat kita manfaatkan dengan muroja’ah hafalan Al Quran maupun menambah ilmu agama dengan mendengarkan rekaman kajian maupun buku-buku yang kiranya dapat menambah keimanan kita. Waktu bergulir begitu cepat, seperti hembusan angin yang hanya berlalu mengibaskan semak-semak dedaunan. Alhamdulillah, Insyaa Allahu Ta’ala kita akan segera berjumpa dengan bulan yang telah lama dirindukan, Ramadhan.

Banyaknya pesan singkat yang bertemakan maaf-maafan semakin marak menjelang Ramadhan. Hal ini menggelitik nurani saya untuk mencari tahu adakah perintah Allah untuk bermaaf-maafan. Adakah tuntunan dalam syariah untuk meminta maaf kepada kerabat dan teman sebelum memasuki bulan yang suci ini?

Dalam majalah Asy Syariah edisi 079 bab tanya jawab ringkas disebutkan sebagai berikut:

* Apakah boleh meminta maaf kepada saudara-saudara muslim sebelum memasuki Ramadhan? Sebagaimana saat ini marak sekali, baik melalui SMS maupun media lainnya.
+6285367XXXXXX

**Apabila mengkhususkannya, tidak ada contoh dalam sunnah. Fenomena yang sedang berkembang disebabkan adanya sebagian mubaligh yang salah menerjemahkan hadits mengenai doa Jibril q yang diaminkan oleh Rasulullah n. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

*Apakah sahih hadits, “Menjelang Ramadhan, Jibril pernah berdoa, ‘Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad apabila sebelum masuk Ramadhan tidak memohon maaf kepada orang tua, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya,’ lalu Rasulullah n mengamininya sampai tiga kali?” Jazakumullah khairan.
+6281230XXXXXX

**Terjadi kesalahan dalam menerjemahkan hadits. Yang benar adalah, “Celaka seseorang yang menjumpai Ramadhan dan keluar darinya dalam keadaan dosanya belum terampuni.” Zadakumullahu ‘ilma.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Nah, sudah jelas kan teman-teman bahwa meminta maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan itu tidak ada syariatnya dan telah dinyatakan oleh Al Ustadz Affiduddin bahwa hadist yang beredar di kalangan masyarakat itu salah dalam menerjemahkannya. Jadi, marilah kita menyambut Ramadhan kita ini dengan cara dan niat yang baik. Jangan mengotori bulan yang suci ini dengan perkara-perkara yang sia-sia bahkan perkara yang diharamkan oleh Allah.

Menyambut Ramadhan itu bukan hanya membeli bahan-bahan makanan sebagai bekal sahur dan buka puasa, namun kesempatan bagi kaum muslimin untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Mari sambut Ramadhan dengan membersihkan hati dari sampah-sampah hati yang kian membelenggu, menyejukkan jiwa yang tandus, menyiapkan kebugaran jasmani agar bisa menikmati Ramadhan hingga akhir. Semangattt menyambut Ramadhan.

Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allah akan menjauh­kan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.”

Salam Sayang.

-tanti-

Jika Apa Yang Kita Miliki Adalah Titipan, Apakah Yang Bisa Kita Sombongkan?

Dalam banyak ayat,Allah memerintahkan kita untuk berfikir dan merenungi tentang penciptaan manusia. Sebuah karya besar yang menunjukkan Maha Luas-Nya kekuasaan Allah, ilmu dan pengaturanNya.

Allah berfirman :

“Maka hendaknya manusia melihat dari apa ia diciptakan.” (QS. Ath Thariq: 5)

“Dan pada diri-diri kalian (terdapat tanda-tanda kebesaranNya) tidakkah kalian melihat.” (QS. Adz Dzariat: 21)

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (nuthfah)(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqah), lalu segumpal darah itu  Kami jadikan segumpal daging (mudhghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al Mukminin: 12-14)

Ayat semakna sangat banyak dalam Al Quran. Allah mengajak untuk melihat dan memikirkan awal proses penciptaan manusia, fase demi fase perubahan penciptaan dan akhir penciptaan. Karena diri dan penciptaannya termasuk ayat terbesar yang menunjukkan keagungan Penciptanya. Selain itu, hal ini adalah ayat yang paling dekat dengan seseorang, yang disana banyak terdapat perkara yang menakjubkan. Umur seseorang tidak akan cukup untuk menggali keajaiban sebagiannya. Ironisnya, banyak orang yang lalai darinya, tidak mau berfikir dan merenunginya. Seandainya seseorang mau memikirkan, mengetahui keajaibannya tentu akan jauh dari kekufuran terhadap Penciptanya.

“Binasalah manusia, alangkah sangat kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudia Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 17-22)

Tidaklah Allah mengulang-ulang ayat semacam ini pada pendengaran dan akal kita untuk sekedar kita mendengar lafal nutfah, ‘alaqah dan mudhghah. Tidak pula sekedar supaya kita fasih mengucapkannya saja atau mengenalnya. Tetapi maksudnya adalah untuk sesuatu di balik itu semua.

Marilah kita perhatikan, setetes air mani hanyalah air yang hina, lemah dan dianggap jijik. Seandainya dibiarkan beberapa saat saja, mani itu akan segera rusak dan busuk. Allah pun merubah setetes air yang keruh lagi hina tersebut menjadi segumpal darah berwarna merah kehitaman, kemudian setelahnya menjadi segumpal daging yang wujudnya berbeda dengan sebelumnya. Perhatikanlah fase-fase ini, dari yang mulanya berupa setetes air, lalu perubahan kedua dan seterusnya. Seandainya jin dan manusia berkoalisi untuk menciptakan pendengaran, penglihatan, akal, ilmu, ruh, satu tulang atau satu urat yang paling kecil atau bahkan sehelai rambut saja, mereka tidak akan mampu.

Ini semua adalah sebagian kecil dari ciptaan Allah. Dialah Yang membaguskan segala ciptaanNya dari setetes air yang hina. Seandainya ciptaan Allah dari setetes air yang hina sedemikian luar biasa, lalu bagaimana dengan langit dengan ketinggian dan keluasannya. Allahu A’alam.

(sumber : majalah Tashfiyah edisi 04 vol.01/2011 hal. 38-40 dengan judul asli Lihatlah Diri Kita!)A

Artikel di atas saya salin ulang disini supaya teman-teman bisa membaca dan mengambil manfaatnya. Tidak ada wacana yang saya kurangi maupun saya tambahkan, semuanya persis sama seperti di majalah tashfiyah. Saya sendiri tergugah untuk menulis ulang artikel di majalah tersebut karena saya merasa dan melihat sendiri bahwa banyak manusia di sekitar saya yang lalai akan nikmat Allah, banyak dari kita atau bahkan saya sendiri yang bersikap sombong lagi angkuh. Padahal semua yang kita miliki termasuk apa yang saya miliki adalah pemberian dan titipan dari Allah Ta’ala.

Setiap diri manusia adalah sama dari apa ia diciptakan. Apa yang bisa kita sombongkan jika apa yang kita punya hanyalah titipan dari Allah? Manusia itu lemah. Manusia tidak akan mampu menandingi kekuasaan Allah. Allah menciptakan alam semesta ini sedemikian rupa, sedemikian detailnya, mulai dari sesuatu yang paling kecil dan tak kasat mata sekalipun. Kelebihan manusia itu tidak lebih besar dari sebulir debu yang berkeliaran di udara. Ingatlah wahai diri manusia bahwa kesombongan itu tidak akan membawa kita pada kemaslahatan. Kemuliaan itu didapat dari banyaknya harta dan kedudukan namun lebih kepada akhlak yang baik lagi beriman.

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong… aamiin.

salam sayang
Cilacap, 03 Feb 2012