Pentingnya Kesopanan Dalam Berkomentar Di Ranah Maya

comment2

Bismillah..

Hampir setiap hari, sebelum memulai aktivitas pekerjaan di depan komputer saya sempatkan untuk membuka layanan internet guna membaca berita terbaru yang terjadi di tanah air ini. Bukan hanya berita yang saya tilik, saya juga membuka surat elektonik untuk mengecek tugas dari atasan yang biasanya dikirim via email bahkan tak lupa juga membuka komunitas FB untuk mengintip kegiatan teman.

Kebetulan  kerjaan di kantor sering sela dan saya memiliki waktu lebih banyak untuk menjelajahi si maya. Tentunya lebih lama lagi saya mengubek-ubek berita tanah air. Pagi ini saya menilik berita terbaru di layanan berita Y*h*o. Beritanya biasa saja, gaya bahasa yang disampaikan juga tak kalah dengan sumber berita online lainnya. Ya iya, orang Y*h*o aja mengutip dari berbagai sumber. Disini saya sedang tidak ingin memperdebatkan tentang beritanya. Namun, terlebih pada kolom KOMENTAR pembaca. Betapa mirisnya membaca komentar-komentar anak negeri ini yang katanya berpendidikan. Terlebih pada pilihan Y*h*o OMG yang meliput gosip-gosip para artis, yah ketahuan deh suka baca gosip. Ya ampun, komentar para pembaca kok ya sadis-sadis banget, menggunakan kata-kata kasar, norak dan parahnya sampai bawa-bawa agama dan akhirnya berbalas-balasan komentar untuk membela agama masing-masing. Ternyata bukan hanya di Y*h*o OMG, di menu bar yang lain juga begitu jika Y*h*o menampilkan berita yang kurang baik (bencana, kelaparan apalagi korupsi dll) tentu komentarnya tidak kalah kasarnya, berita tentang politik juga komentarnya mengerikan.

Sungguh saya sangat risih membaca komentar-komentar tak berakhlak itu. Dimana tata sopan santun kalian? Komentar yang dilontarkan tidak layak untuk dibaca. Tidak pantas dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku berpendidikan. Saya rasa meskipun kita bersosialisasi di dunia maya yang entah ketemunya kapan, norma kesopanan haruslah diutamakan. Komentar yang dikemukakan seseorang menjadi cerminan pribadi orang tersebut. Ingatlah meskipun kita belum pernah ketemu tapi kesopanan tetap harus dijaga. Bukankah negeri kita dikenal dengan “ramah tamah“nya. Saya malu baca komentar yang tidak jarang mengeluarkan binatang-binatang berkaki empat untuk diselipkan ke dalam komentar, saya risih membaca komentar yang isinya kotoran binatang dan manusia.

Ya, meskipun tidak di semua berita komentarnya pedas tapi seharusnya etika berpendapat tetap harus dikedepankan. Saya yakin, pembaca disini sopan-sopan semua yaa.. ^_^

*Rewrite from my account on Kompasiana.

Advertisements

[Laa Ba’sa Thahurun] Nikmat Sehat Yang Sering Dilalaikan

jamBismillah…

Akhawati fillah kaifa haluki? Mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala dan selalu diberi kesehatan oleh Allah. Alhamdulillah kita semua masih bisa menghirup udara segar di tahun 2013 ini.

Senang yaa rasanya kalau melihat orang tua kita sehat, anak-anak sehat, istri/suami juga sehat dan memiliki banyak waktu untuk urusan dunia dan akhiratnya. Dua nikmat ini sering dilalaikan oleh manusia, termasuk saya ini. Yakni nikmat sehat dan waktu luang.

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Seseorang tidaklah memiliki waktu luang jika badannya tidaklah sehat. Siapa saja yang memiliki dua kenikmatan ini hendaknya janganlah sampai tertipu dengan meninggalkan syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikannya. Bersyukur dengan menjalankan perintahNya dan bersyukur dengan meninggalkan apa yang menjadi laranganNya. Barangsiapa yang luput dari syukur tersebut maka dialah orang yang tertipu.

Sebagian besar orang bilang bahwa nikmat sehat itu akan lebih terasa ketika kita dalam keadaan sakit. Sepertinya hal ini tidak seratus persen salah, karena saya sendiri juga merasakan hal demikian. Kesehatan itu sangat terasa berharga ketika badan ini lemas terkulai tak berdaya. Ketika tangan ini kaku digerakkan karena selang infus tidak bisa dinego untuk dilepaskan.

Mengawali tahun 2013 tepatnya tanggal 01 Januari 2013, saya ‘ngekost’ di rumah sakit karena typus. Sungguh, hal ini sangat tidak mengenakkan. Badan terasa kaku semua, aktivitas terganggu. Memang ada benarnya perkataan orang bahwa nikmat sehat akan terasa ketika kita dalam keadaan sakit. Saat badan terbaring lemah di atas ranjang kamar rawat inap itu sangat terasa betapa berharganya sehat itu.

Bicara tentang sehat, kita semua pasti sering mendengar bahwa Sehat itu Mahal Harganya. Saya sendiri telah mengalami dan merasakannya. Bukan masalah mahal dalam nominal tetapi terlebih karena betapa menderitanya ketika sakit dan tak luput kita membayangkan begitu nikmatnya ketika sehat. Apa yang dapat dilakukan oleh orang sehat, tak bisa dilakukan oleh orang sakit. Ketika sehat kita biasa melakukan pekerjaan rumah ini dan itu, mengurus suami dan anak-anak, bekerja di kantor dan lain sebagainya. Namun ketika sakit, hmmm… hanya tergeletak lemas di atas tempat tidur. Saudaraku, jangan pernah terlewatkan syukur atas nikmat yang tiada tara ini. Bersyukur dengan cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Kalau badan kita sehat, kita juga bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik. Setuju! Ayo kita terapkan gaya hidup sehat. ^_^

Mantel Rok, Lebih Syar’i dan Lebih Nyaman untuk Akhwat

Bismillah …

Alhamdulillah musim hujan telah membelai hari-hari kita dengan mesra. Hampir setiap hari di wilayah kota Cilacap dan sekitarnya diguyur hujan. Entah itu gerimis-gerimis romantis saja atau hujan lebat disertai angin badai. Masih ingatkan teman-teman amalan apa saja yang kita lakukan ketika turun hujan. Salah satunya adalah berdoa, karena ketika hujan turun menjadi salah satu waktu mustajab dikabulkannya doa. Dan, kita tidak boleh mencela hujan karena hujan adalah rahmat Allah. Kalau teman-teman lupa, saya ingatkan kembali di postingan saya yang telah lalu (disini).

Datangnya musim hujan memang kerap mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Hendaknya hujan janganlah dijadikan alasan apalagi sebagai bahan olok-olokan. Kalau kita mengaku cinta hujan, janganlah menghindar darinya. Kita tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Disiasati dengan memakai payung, mantel dan aksesoris lain yang bisa melindungi tubuh.
Sebagai seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta, saya memiliki tanggung jawab untuk ke kantor setiap hari kerja. Tidak mungkin dong kalau libur kerja hanya karena hujan. *seneng banged kalau ada peraturan gitu yaaa*. Jadi, mau tidak mau kita harus tetap ke kantor meski hujan badai menerpa. Memakai mantel untuk berkendara dengan motor adalah pilihan yang tepat.

Alhamdulillah kini saya telah memiliki mantel yang pas untuk seorang perempuan. Mantel rok. Mantel ‘egois’ biasa kami menyebutnya karena model mantel ini berupa baju atasan dan bawahan. Jadi, gag bisa dipakai berduaan. Hehe.. Kini semakin bervariatif baik motif ataupun bentuknya. Mantel yang bawahannya berupa rok inilah yang paling pas untuk kaum hawa. Terbukti! mantel ini lebih nyaman dipakai. Kenapa saya berani bicara lebih nyaman? Karena saya sendiri sudah membuktikannya. Daaaan.. teman-teman saya baik teman kerja maupun teman ngaji juga sudah membuktikannya.

Meskipun hujan lebat, jika kita memakai mantel rok, insyaaAllah pakaian yang kita kenakan tidak basah. Hal ini dikarenakan tidak adanya sela-sela jahitan pada bagian tengah mantel seperti halnya pada mantel celana. Bagian jahitan yang di tengah-tengah celana itu akan merembeskan air hujan yang jatuh ke badan kita. Hal ini membuat pakaian kita basah. Saat di kantor, teman-teman yang memakai mantel rok pakaiannya kering tapi kalau yang memakai mantel celana bagian tengah celananya juga basah. Nah kan lebih nyaman pakai mantel rok tho! Lebih pas buat perempuan, lebih syar’i pula. *senyum*

(fotonya nunggu yaaa.. )

Di Rumah (17 Agustus – 26 Agustus 2012) adalah Waktu Paling Menyenangkan

Bismillah …

Libur kerja yang diberikan perusahaan telah usai. Libur dimulai tanggal 17 Agustus sampai dengan tanggal 26 Agustus 2012, terbilang cukup lama liburnya namun bagiku libur terasa hanya permisi lewat. Saya terlalu asyik dengan kegiatan di rumah hingga waktu terasa begitu cepat bagiku. Kesibukan membantu ibu memunculkan gejolak rindu akan ‘Baiti Jannati’. Dengan kata lain semakin malas berangkat kerja. Saya memang tidak berbakat menjadi wanita karier (ini adalah kalimat halus dari seringnya berangkat kesiangan, sering ijin, sering tidak nurut sama perintah atasan dll..hihi). Cita-cita saya sejak pertama kali mengenal ngaji yaaa… jadi ibu rumah tangga, jadi istri penyejuk hati suami dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku kelak. Aamiin.

Selama masih terkungkung dalam kebodohan saya seperti kalian-kalian ini wahai hamba hawa yang banyak terkontaminasi dengan gaya hidup kebarat-baratan yakni ingin mengejar karir, bekerja di sebuah perusahaan bergengsi dan semacamnya. Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri hingga akhirnya saya tersibukkan dengan berthalabul ‘ilmi meski sampai saat ini saya belum bisa berpisah dengan tempat kerjaku. Insyaa Allah jika sang pangeran sudah menjemputku melangkah ke pelaminan saya pasti akan segera hijrah menjadi istri penunggu rumah. Kapan yaaa?? Heheee…

“dan tinggallah kalian para wanita di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS.Al-Ahzab:33).
Cukuplah ayat diatas sebagai motivasiku untuk tinggal di rumah. Terlebih iming-iming pahala berlimpah untuk istri yang tinggal di rumah, mengurus rumah, menaati suami dalam kebaikan, mengurus anak, membimbing, dan mendidik anak serta melihat setiap gerak langkah perkembangan sang buah hati dan masih banyak hal yang bernilai pahala bagi seorang istri.
Memang tidak ada larangan untuk keluar rumah bagi seorang perempuan. Perempuan boleh saja keluar rumah jika ada kebutuhan yang mendesak namun disamping itu juga harus memperhatikan adab-adab keluar rumah. Diantara adab-adab tersebut adalah mengenakan hijabnya dengan baik dengan tidak memperlihatkan bentuk tubuh, tidak berhias, tidak memakai parfum dan wewangian. Akan lebih baik lagi jika keluar rumah disertai dengan mahramnya.
Cuti bersama dan libur kerja dalam rangka memperingati hari raya Idul Fitri 1433 H kemarin membuat hatiku berbunga. Selain liburnya yang cukup panjang, saya juga bisa mempersiapkan serba-serbi lebaran yang serba-serbi. Nah lo. Disamping itu saya bisa menikmati indahnya menjadi anak rumahan. Kerjaan rumah beres tanpa ada komando dari atasan, capek tinggal istirahat selonjoran pun tidak ada yang protes, ngantuk tinggal tidur tanpa ada yang marah-marah, bermain dan bercanda dengan ponakan, pergi kesana kemari tanpa dibatasi jam kerja dan masih banyak lagi. Lain dengan di kantor, badan capek pun harus di paksa tidak capek, ngantuk dibawa ngopi, padahal efek kopi tidaklah seberapa bagiku. Yah, mungkin karena hatiku sudah terpikat di rumah bukan di kantor lagi.
Eittt..satu lagiii. Saya dapat ilmu baru. Mau tahu? Sssttt..saya dapat rahasia tips berdagang yang jitu langsung dari sumbernya yakni dari ibu saya sendiri. Hehe.. Tidak neko-neko dan ribet. Rahasianya adalah panjatan doa pada Allah dengan berkesinambungan dan tidak patah harapan disertai dengan keuletan dan ketelatenan. Modal utama seorang pedagang adalah telaten dan sabar menghadapi pembeli atau calon pembeli.
Sriping Pisang

Sriping pisang adalah produk andalan ibu. Ikon utama dagangan ibu.

Dan…
Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan di rumah lainnya. Kegiatan dapur misalnya. Wahh.. kalau kerja mah masuk dapurnya tidak bisa berlama-lama. Padahal di dapur itu asik lo. Bisa cobain menu-menu baru dan menu yang aneh-aneh. Praktek resep-resep yang nemu di internet tentunya.
Teman-teman…
Berbahagialah kalian yang bisa menghabiskan waktu di rumah tanpa berikhtilat dengan lawan jenis. Janganlah malu jadi ibu rumah tangga karena menjadi seorang ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia lagi berpahala. Jangan pula mengeluh capek mengerjakan pekerjaan rumah, jangan pula berkeluh kesah dengan kenakalan nan lucu buah hati kita. Berbahagia lah dan lapangkanlah hatimu. Jadilah istri penyejuk hati suami dan jadilah madrasah pertama bagi anak-anakmu. *Nasihat untuk diri sendiri*.
salam
-tanti-

Janganlah Agama Itu Dijadikan Bahan Olok-Olokan

Bismillah ..

Ngelus dada dulu sebelum nulis, soalnya nulis sambil manyun nih. Sabarrr.. daripada marah-marah ke orang nggak jelas dan kurang ilmu mending saya marah-marah disini. Ups.. maksud saya curhat disini. *senyum*

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At Taubah 9 : 65-66)

Tahukah Anda sebab turunnya ayat ini?

Dahulu ada sekelompok manusia yang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Di dalam suatu majelis mereka mengatakan,

“Kita tidak pernah melihat seperti para pembaca Al Qur’an kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya, paling penakut ketika bertemu musuh”,

Yang mereka maksudkan dengan ucapan mereka itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Pada waktu itu di antara mereka ada seorang dari kalangan sahabat, maka sahabat ini pun marah dengan ucapan mereka ini. Dia pun pergi dan melaporkan apa yang terjadi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelum dia sampai kepada Rasulullah, wahyu telah turun mendahuluinya.

Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta maaf. Berdirilah salah seorang dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan,

“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa penat dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau,”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikit pun kepadanya dan beliau hanya membacakan ayat tadi.

Kalau ada yang mengatakan, “Ini kan cuma bercanda, orangnya kan mungkin tidak punya niat untuk mencela atau merendahkan. Cuma guyon saja kok..”

Maka kita katakan bahwa kasusnya sama saja dengan kisah Perang Tabuk yang telah kita sampaikan di atas. Orang yang mengolok-olok Rasulullah dan para sahabat tadi juga mengemukakan alasan yang serupa,

“Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.”

Oleh karena itu saudaraku seiman, hendaknya kita jaga lisan dan sikap kita dari menjadikan perkara agama, atau simbol-simbol agama sebagai bahan candaan dan olok-olok.

Apakah tidak ada bahan candaan lain sehingga perkara yang semestinya kita agungkan dan kita sakralkan ini pun kita jadikan bahan olok-olok?

(sumber: rizkytulus.wordpress.com)

Perkara agama dijadikan bahan olok-olokan kini semakin menjadi hal yang biasa. Parahnya lagi, yang menjadikan agama sebagai bahan candaan dan olok-olokan adalah orang Islam itu sendiri. Naudzubillah. Itulah salah satu nikmat ilmu sebagai pelindung kita dari hal-hal yang dianggap kecil namun berakibat fatal.

Seperti yang sering kita saksikan di kalangan masyarakat bahwa perempuan yang memakai cadar sering diejekin “ninja..ninja atau bahkan kuntilanak” dan lelaki yang berjenggot dengan memakai celana di atas mata kaki diejekin dengan “si jenggot atau aliran katok cungklang (celana di atas mata kaki) bahkan ada yang memanggilnya embek (suara kambing)”. Naudzubillah.. perkara ini adalah penghinaan besar terhadap sunnah Nabi. Sedihnya lagi, yang melakukan perkara tersebut adalah orang Islam yang melakukan sholat dan mereka tidak merasa berdosa sama sekali. Ingatlah bahwa pakaian yang baik di mata masyarakat belum tentu baik di mata Allah. Seharusnya mereka patut berbangga dan berusaha meniru mereka yang telah mampu mengamalkan ajaran Nabinya. Bukan malah mengolok-olok dan mengejeknya.

Teman-teman, tahukah kalian bahwa perkara di atas adalah termasuk bentuk ISTIHZA’ yakni berolok-olok dalam perkara agama yang dilarang keras di dalam Islam bahkan ditakutkan pelakunya bisa murtad, keluar dari Islam.

Mengapa bisa menyebabkan pelakunya murtad?

Seperti yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, bahwa “Sesungguhnya berolok-olok dengan Allah, ayat-ayatNya dan rasul-Nya mengeluarkan seseorang dari agama karena pondasi agama ini dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, pengagungan terhadap agama dan Rasul-RasulNya. Maka berolok-olok dengan perkara tersebut menafikan pondasi agama dan benar-benar membatalkannya.” (Tafsir As Sa’di, At Taubah: 65-66).

Mari kawan-kawan kita filter lagi bahan candaan kita. Carilah bahan gurauan dengan tidak membawa agama dan sunnah Nabi. Bagi akhwat yang sedang belajar mengenakan hijab dan cadar seperti saya ini jangan menyerah, tak usah hiraukan omongan dan olokan dari tetangga dan kerabat. Menggenggam bara api itu memang butuh perjuangan dan kegigihan, tetaplah berpegang teguh dengan agama dan ajaran Islam.

Dan bagi ikhwan yang berjenggot dan celana ngatung, tetaplah istiqomah di atas sunnah. Jangan gontai akan terpaan badai lidah yang pahit.

-tanti-

Ramadhan Tahun Ini Lebih Nikmat Tanpa Televisi

Gambar

Bismillah..

Alhamdulillah betapa senangnya hati ini bisa menikmati bulan Ramadhan lagi. Bulan yang selalu dirindukan kedatangannya oleh kaum muslimin di dunia. Rintik hujan turut menyambut kedatangannya, meskipun jua diiringi dengan terpaan angin yang begitu dahsyat hingga merobohkan sedikit tiang belakang rumah. Alhamdulillah hanya sedikit.

Sahur dan berbuka puasa adalah waktu dimana kita dibolehkan makan dan minum serta kegiatan lainnya yang ketika siang hari tidak bisa kita lakukan. Makanlah dengan cukup dan tidak berlebihan serta tidak rakus. Saya sendiri sudah membuktikannya. Ketika hidayah ilmu Allah belum jua masuk ke sanubari, saya sering ketika makan sahur memakan dengan lahapnya walaupun terasa kenyang masih saja ngemil bahkan minum susu sampai fajar tiba. Alhasil tetap saja siang harinya lapar bahkan lemes dan males bangun tidur. Hehe.. percuma kan makan banyak? Sudah banyak terbukti bahwa kekenyangan itu bawaannya tidur dan malas-malasan. Makanlah secukupnya dan hindari minum teh atau kopi karena dengan meminum teh dan kopi justru akan menjadikan kita haus di waktu siangnya. Percaya deh .. percaya aja deh kan itu dari sumber yang dapat dipercaya. Hihi .. *maksa*

Sahur di hari pertama puasa terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah tahun ini tidak ada kotak ajaib yakni Televisi. Loh kok bisa dinamakan kotak ajaib? Yaa..memang ajaib karena kotak persegi sekecil itu bisa merusak akhlak bahkan aqidah seseorang. Banyaknya kemaksiatan sebagai bahan tontonan sehari-hari, perempuan-perempuan telanjang menghiasi layar televisi dan hebatnya lagi bisa mengkarbit manusia lo. Tuh kan bukan hanya buah-buahan yang bisa dikarbit tapi manusia juga bisa dikarbit. Seringnya menonton televisi menjadikan anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Astaghfirullah *sambil ngelus dada*. Buang jauh-jauh kotak maksiat itu sebelum kita semakin terjatuh dan terjatuh. Untuk pertama kalinya di rumah saya tidak ada televisi satupun. Awalnya saya sudah mencoba membujuk bapak ibu untuk membuang televisi di ruang tengah keluarga kami tapi tapi.. tau sendiri kan teman-teman, jalan menuju surga itu tak senikmat jalan menuju neraka. Alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah, televisi rusak dan biaya reparasinya sangat tinggi. Akhirnya, bye bye Televisi. *Maaf ya bapak ibu, bukannya saya tidak mau membelikan tapi ini demi kebaikan bersama*.

Kini kenikmatan bulan Ramadhan semakin bertambah dengan hati yang tentram tanpa suara bising televisi. Sahur yang biasanya ditemana gelak tawa para pelawak di televisi kini lebih indah ditemani dengan murotal dari RDAM. Sembari menunggu waktu fajar bisa dimanfaatkan dengan membaca Al Quran atau dengan muroja’ah hafalan Al Quran. Alhamdulillah bapak ibu juga sudah bisa menerima keadaan tanpa televisi. Lalu bagaimana kita bisa tahu tentang berita-berita yang terjadi di sekitar kita? Saya sarankan untuk menjadi pendengar yang baik. Setel Radio yang sedang memutar berita dan informasi. Buktinya kalau di Televisi tuh kebanyakan sinetron bukan berita. 🙂

Sudah mau dhuhur teman-teman… sudah dulu yaaa, ceritanya dilanjut besok lagiii.

Doa berbuka puasa yang shahih:

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah”

Artinya : “Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki”

Perlukah Sebuah Kajian Ilmu Disampaikan Berulang?

Suatu hari aku pernah ditanya oleh kakakku sendiri, kira-kira seperti ini pertanyaannya, “Ngaji ngono-ngono ae kur diwolak-walik bahasanne, ra ono kegiatan liyo tah selain ngaji?”. Hemm… aku sudah tahu persis watak dan sifat kakak tertuaku ini dan yang paling dominan adalah sikap maunya menang sendiri alias ‘sak karepe ndek e’. Jadi, walaupun kita mengelak sampai berotot juga tidak akan bisa menandingi dan hanya buat capai hati. Lebih baik menanggapinya dengan santai. Pertanyaan seperti itu cukup ku jawab dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui, contohnya : “Daripada dolan-dolan ora jelas yo mending ngaji” (Daripada main-main tidak jelas ya lebih baik mengaji).

Islam adalah agama yang sempurna. Semua aspek kehidupan telah diatur sedemikian rupa. Sejarah tercatat rapi dan dijamin kevalidannya karena Allah lah yang membuatnya dan mengabadikannya dalam kitab suci Al Quran yang wajib kita pedomani. Bahkan kejadian yang akan datang pun telah tertulis di dalamnya. Maha Besar Allah pemilik alam semesta ini. Tidak ada satu zat pun yang mampu menandinginya bahkan untuk menandingi satu ayat Al Quran pun tidak ada yang mampu.

Lalu, dengan cara apakah kita mengais ilmu-ilmu Allah jika tidak dengan menghadiri majelis ilmu? Mengambil manfaat dan mengamalkan ilmu yang telah kita dapat. Subhanallah. Sungguh, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Mempelajari akidah agar hidup kita lebih terarah, mengambil manfaat ilmu agar hidup kita tidak sia-sia dan mendapat ketenangan hati karena bergaul dengan orang-orang alim.

Perlukah sebuah kajian ilmu disampaikan berulang-ulang? Menurutku itu sangat perlu. Jika ilmu-ilmu tentang sains saja harus disampaikan berulang kali agar anak didiknya mengerti dan memahami apalagi ilmu Allah sebagai bekal kita di akhirat nanti. Sebagai seorang awam, masih banyak hal yang perlu aku pelajari. Mempelajari dan memahami saja tidak cukup tanpa kemantapan niat dan kemauan keras dari diri kita sendiri. Kajian ilmu disampaikan berulang kali saja kita masih lalai untuk menjalankannya, bagaimana jika hanya disampaikan sekali? Coba, Anda renungkan sendiri.

Intinya, aku senang berada di tengah-tengah orang yang berilmu. Ada sepercik keteduhan dan kesejukan hati. Bersama mereka, teman-temanku di majelis ilmu.