Belajar Bahasa Arab Yukk ….

Bismillah …

Mempelajari bahasa arab itu asik lo teman-teman. Rasanya nano-nano. Manis asam asin jadi satu. Dicampur dengan paduan deg-degan dan rasa takut dimarahi kalau salah sama ustadz/ustadzah. *pengalaman pribadi*

Kitab acuan yang saya pelajari dengan teman-teman yang diajar oleh Ustadzah Najah ini adalah kitab Durushul Lughah Jilid 1 ( Durushul Lughah ada 3 jilid). Alhamdulillah guru kami mengajarkan dengan asyik sehingga pelajaran mudah dicerna dan banyak tugas-tugas menulis yang membuat kami jadi terbiasa menulis arab. Maklum lah murid-muridnya special (ummahat dan akhowat dewasa, bukan anak-anak yang mudah mencerna pelajaran). Sebelum belajar dengan Ustadzah Najah, saya dan teman-teman belajar dengan Ummu Abdullah. Namun sayang, waktu belajar sama beliau saya kurang mengikuti karena kesibukan sebagai wanita kuli yang tidak bisa ditinggalkan.

Sebagai seorang pekerja memang sedikit banyak ada kendala untuk bisa rutin menghadiri pelajaran demi pelajaran bahasa arab ini. Dan sebagian besar rekan-rekan kerja belum faham betul mengenai dien ini. Bagi orang yang belum banyak menggali agama ini, banyak yang bertanya-tanya “buat apa si belajar bahasa arab?” atau malah ada yang bilang “mau jadi TKW apa kok belajar bahasa arab segala?”. Hmm.. jleb.. lumayan menusuk hati. Toh kalian atau anak-anak kalian mati-matian les atau kursus Bahasa Inggris juga saya gag protes kok. *sabar2*. Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.

Dari sumber sumber wacana yang saya baca (http://al-atsariyyah.com) bahwa mempelajari ilmu bahasa arab memiliki 2 (dua) tujuan yakni:

  • Memahami Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar
  • Menjaga lidah agar tidak salah dalam mengucapkan kedua wahyu tersebut
    Berhubung kedua perkara di atas adalah wajib, maka hukum mempelajari bahasa arab juga wajib, tapi wajib kifayah, bukan wajib ain.
    Jadi, hukum mempelajari bahasa arab sama seperti hukum mempelajari ilmu-ilmu alat lainnya, yaitu fardhu kifayah. Karenanya jika di suatu daerah ilmu-ilmu alat seperti ini dibutuhkan maka wajib atas penduduk daerah tersebut -secara umum- untuk mempelajari ilmu tersebut. Tapi jika sudah ada sebagian dari penduduk daerah tersebut yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Sudah dimaklumi bersama bahwa hukum mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab adalah fardhu kifayah.” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/252)
    Dan di tempat yang lain beliau berkata, “Ditambah lagi, bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama sehingga mengetahui bahasa Arab adalah wajib. Karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib, sementara keduanya tidak mungkin bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Dan sesuatu yang kewajiban tidak sempurna terlaksana kecuali dengannya maka sesuatu itu juga wajib.” Mirip dengannya diutarakan oleh Ar-Razi dalam Al-Mahshul (1/275).

Artikel di atas adalah artikel yang saya copy-paste dari website tetangga. Nah, teman-teman semua sudah tau kan kalau belajar bahasa arab itu bertujuan agar mempermudah kita memahami Al Quran dan As Sunnah.

Mari belajar bahasa arab. Belajar bahasa arab itu asik lo… *senyum*. Bagi ikhwan yang berada di sekitar Cilacap, bisa menghubungi ustadz-ustadz di Al Manshurah. Cekidottt..

salam
-tanti-

Durushul Lughah Jilid 1(Fotocopy-an)

Durushul Lughah Jilid 1
(Fotocopy-an)

Durushul Lughah Jilid 1(Fotocopy-an)

Durushul Lughah Jilid 1
(Fotocopy-an)

 

Advertisements

Mantel Rok, Lebih Syar’i dan Lebih Nyaman untuk Akhwat

Bismillah …

Alhamdulillah musim hujan telah membelai hari-hari kita dengan mesra. Hampir setiap hari di wilayah kota Cilacap dan sekitarnya diguyur hujan. Entah itu gerimis-gerimis romantis saja atau hujan lebat disertai angin badai. Masih ingatkan teman-teman amalan apa saja yang kita lakukan ketika turun hujan. Salah satunya adalah berdoa, karena ketika hujan turun menjadi salah satu waktu mustajab dikabulkannya doa. Dan, kita tidak boleh mencela hujan karena hujan adalah rahmat Allah. Kalau teman-teman lupa, saya ingatkan kembali di postingan saya yang telah lalu (disini).

Datangnya musim hujan memang kerap mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Hendaknya hujan janganlah dijadikan alasan apalagi sebagai bahan olok-olokan. Kalau kita mengaku cinta hujan, janganlah menghindar darinya. Kita tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Disiasati dengan memakai payung, mantel dan aksesoris lain yang bisa melindungi tubuh.
Sebagai seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta, saya memiliki tanggung jawab untuk ke kantor setiap hari kerja. Tidak mungkin dong kalau libur kerja hanya karena hujan. *seneng banged kalau ada peraturan gitu yaaa*. Jadi, mau tidak mau kita harus tetap ke kantor meski hujan badai menerpa. Memakai mantel untuk berkendara dengan motor adalah pilihan yang tepat.

Alhamdulillah kini saya telah memiliki mantel yang pas untuk seorang perempuan. Mantel rok. Mantel ‘egois’ biasa kami menyebutnya karena model mantel ini berupa baju atasan dan bawahan. Jadi, gag bisa dipakai berduaan. Hehe.. Kini semakin bervariatif baik motif ataupun bentuknya. Mantel yang bawahannya berupa rok inilah yang paling pas untuk kaum hawa. Terbukti! mantel ini lebih nyaman dipakai. Kenapa saya berani bicara lebih nyaman? Karena saya sendiri sudah membuktikannya. Daaaan.. teman-teman saya baik teman kerja maupun teman ngaji juga sudah membuktikannya.

Meskipun hujan lebat, jika kita memakai mantel rok, insyaaAllah pakaian yang kita kenakan tidak basah. Hal ini dikarenakan tidak adanya sela-sela jahitan pada bagian tengah mantel seperti halnya pada mantel celana. Bagian jahitan yang di tengah-tengah celana itu akan merembeskan air hujan yang jatuh ke badan kita. Hal ini membuat pakaian kita basah. Saat di kantor, teman-teman yang memakai mantel rok pakaiannya kering tapi kalau yang memakai mantel celana bagian tengah celananya juga basah. Nah kan lebih nyaman pakai mantel rok tho! Lebih pas buat perempuan, lebih syar’i pula. *senyum*

(fotonya nunggu yaaa.. )

Ketika Bos Naik Haji

Bismillah …

Alhamdulillah tanggal 07 Oktober 2012 lalu atasan saya beserta istri telah tiba di tanah air setelah berhari-hari menunaikan rukun Islam yang kelima. Mudah-mudahan orang-orang yang mampu lainnya bisa tergugah hatinya untuk mengikuti jejak baik atasan saya ini. Beliau adalah Pak Irvan beserta istrinya. Saya dan teman-teman kantorpun beranjak untuk berziarah ke rumah beliau. Eittt.. bukan mau minta oleh-oleh lho yaaa *dikit ngarep sih*. Berziarah ke rumah orang yang baru pulang haji salah satu tujuannya adalah untuk menumbuhkan keinginan yang kuat untuk menyusulnya ke tanah suci (memantapkan niat untuk berhaji, tidak putus asa untuk mengunjungi Baitullah). Selain itu, kita juga dapat menimba ilmu darinya. Alhamdulillah, Pak Irvan beserta istri bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu dan pengalaman sehingga semangat ‘menabung’ haji kembali membara. Bukankah orang yang mampu itu belum tentu kaya? Orang yang kaya juga belum tentu mampu.

Menunaikan rukun Islam yg kelima memang tidak semua orang mampu menjalankannya. Dalam hal ini bukan semata-mata mampu dari segi ekonomi (biaya haji) buktinya, banyak di sekitar kita orang kaya raya tapi mereka belum ‘berani’ menunaikannya. Dan, ada pula yang rumahnya gubuk namun sudah mampu berhaji. Di sisi lain, banyak orang yang sangat ingin berkunjung ke tanah Mekkah namun terbentur biaya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Berhaji menghabiskan waktu kurang lebihnya 40 hari (kecuali haji plus). Otomatis selama kurun waktu itu atasan kami meninggalkan kantor untuk memenuhi panggilan Allah. Daaaaan pastinya di kantor itu TIDAK ADA BOS. Asiiik.. Upss.. maksud sayaaaa.. hmmm.. yaaa gitu deh. Bukannya senang tidak ada bos tapi ya bisa dibilang bisa lebih ikhlas kerjanya. Loh kok bisa? Kalau ada bos secara tidak langsung kita bekerja bukan dengan maksud ibadah namun karena ada yang mengawasi yakni atasan kita. Ketika atasan tidak ada di kantor kita lebih rileks dan santai kerjanya. Sebagian besar kenyataannya memang seperti itu bukan? Kita akan bekerja dengan rajin bahkan sampai cari muka di hadapan boss namun ketika atasan keluar/tidak berada di tempat, kerjanya bersantai-santai ria bahkan merasa bebassss. *Jangan ikut-ikutan yaa*. Ya.. Begitulah manusia, suka mencari muka untuk kepuasannya sendiri. Suka bermanis muka untuk mencuri perhatian bos.

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap bos semesta alam, Allah Ta’ala? Sudahkah kita bermanis-manis untuk mencuri perhatian agar makin dicintai oleh Allah? Jika kita melakukan suatu pekerjaan kantor dengan sungguh-sungguh hanya karena ada atasan yang mengawasi, seharusnya kita dalam melakukan kewajiban sebagai hamba Allah lebih bersungguh-sungguh menjalankannya karena ada atasan semesta raya yang tidak pernah tidur dalam mengawasi kita dan seluruh makhlukNya.

Ketika atasan kantor memanggil kita, dengan cepat kita melangkah agar beliaunya tidak marah. Sudahkah kita berlari-lari mengejar panggilan Allah? Jika adzan berkumandang, sebagian kita ada yang menyelesaikan kerjaan dululah, nanggung lah, nanti dulu lah, mau ini itu dulu lah dan macem-macem alasan untuk memenuhi panggilan Allah tepat waktu. Tanpa berpikir kalau Allah akan marah.

Teman-teman.. Mari kita luruskan lagi niat kita dalam beribadah. Ibadah itu adalah nutrisi hati, bukan ajang untuk riya. Tautkan dalam hati bahwa Allah sebagai pencipta dan pengatur semesta ini tidak pernah tidur dalam mengawasi seluruh hambaNya. Jika kita sungkan untuk melanggar aturan-aturan atasan, seharusnya kita lebih sungkan kepada Allah yang mengatur semesta. Jika takut atasan kita akan marah jika kita membangkang, seharusnya kita lebih takut jika Allah marah karena ulah kita sendiri. Yukk teman-teman saatnya kita berbenah. *senyum

salam
-tant-

                                                ~Parfum oleh-oleh haji~

Lebih Cantik Dengan Hijab

Muslimah Tangguh

Bismillah …

Minggu Wage, 02 September 2012. Seperti biasa, di desa kecil kami yakni di desa Karangkandri (Cilacap) setiap hari ada pasar-pasar tertentu sesuai dengan harinya. Seperti pasar pahing tepat di hari pahing dalam kalender jawa, pasar kliwon di hari kliwon dalam kalender jawa dan begitu seterusnya untuk hari-hari lainnya. Kebetulan hari minggu kemarin bertepatan dengan hari wage dalam kalender jawa. Nah, pasar wage ini adalah salah satu pasar yang paling ramai jika dibandingkan dengan pasar-pasar di hari jawa lainnya.

Setelah selesai berkeliling mencari bahan makanan dan sayur mayur, saya dan juga ibu ingin membeli jajanan pasar. Proses pilih sana pilih sini pun dimulai. Tentu kami akan lebih memilih jajanan pasar yang higienis. Higienis adalah hal yang sangat sulit ditemukan ketika kita singgah di pasar-pasar tradisional. Higienis disini setidaknya jajanan pasar tersebut ditutup dengan daun, plastik, kertas minyak dan semisalnya. Alhasil, penjual yang menutup dagangannya dengan daun, plastik, kertas minyak dan semisalnya lebih banyak diminati oleh pembeli. Lain halnya dengan penjual yang membiarkan jajanannya dibiarkan begitu saja. Bukan diminati pembeli namun diminati oleh lalat-lalat.

Fenomena “jajanan pasar” tersebut menggugah inspirasiku untuk menuliskan tentang hijab. Berhijab sebagai bentuk tanggung jawab diri setiap perempuan untuk melindungi dirinya sendiri. Seorang muslimah seharusnya bersyukur atas turunnya perintah tentang wajibnya menutup aurat. Bukankah hal ini lebih memuliakanmu? Islam begitu memuliakan perempuan. Namun, realitanya perempuan itu sendiri lah yang menghinakan dirinya. Renungkan sejenak tentang jajanan pasar di atas. Jajanan yang tidak ditutupi itu banyak dikerubuti lalat-lalat, mudah terkena kotoran debu-debu dan sebagainya.

Seluruh semesta di alam raya ini pun berhijab. Dimana fungsi hijab tersebut adalah untuk melindunginya. Sedikit contoh, (1) bumi berhijab dengan atmosfer yang berfungsi untuk melindungi bumi dari sinar ultraviolet dan dari benda-benda luar angkasa yang jatuh ke bumi, (2) mata manusia memiliki kelopak, bulu mata dan alis yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu secara langsung yang otomatis akan berkedip ketika ada gangguan pada mata, (3) rumah yang kita tempati memiliki atap dan dinding untuk melindungi penghuninya dari teriknya matahari, dinginnya malam dan air hujan, (4) air mineral pun akan lebih higienis jika tutupnya masih tersegel, (5) burung memiliki bulu-bulu yang dapat melindungi dirinya dan menghangatkan tubuh. Dan tentu masih banyak lagi contoh-contoh lainnya yang tidak mungkin dapat diuraikan disini.

Begitupula halnya dengan perempuan. Perempuan adalah makhluk yang lembut dan mulia yang seharusnya kita sebagai perempuan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi aset yang kita miliki. Jika satu helai rambut perempuan terlihat oleh mata orang lain dihitung sebagai dosa, maka berapa banyak dosa yang kita ciptakan sendiri dengan mempertontonkan keindahan rambut kita di hadapan selain mahram? *For thinking*

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Dan para perempuan seyogyanya mengenakan hijabnya dengan baik. Percuma saja jika ia memakai jilbab namun lekuk tubuhnya masih terlihat sana-sini. Memakai celana ketat dan kaos yang terlihat lipatan tubuhnya. Ayolah saudariku, kita belajar bersama-sama menggapai ridho Allah. Kenakanlah hijabmu dengan “baik”. Perempuan itu adalah aurat dan jika mereka keluar maka syaitan akan menghiasinya. Syaitan tidak akan pernah lelah mengganggu manusia sampai manusia tersebut jatuh dalam kemaksiatan.

Banyaknya tren-tren jilbab “gaul” di sekitar kita, tidak sedikit muslimah yang terjebak di dalamnya. Diantara kita pernah mendengar ucapan bahwa perempuan itu lemah. Benar sekali. Perempuan itu lemah akal dan agamanya. Lemah akal karena perempuan lebih mengedepankan hati daripada logikanya, tidak jarang perempuan-perempuan yang mudah goyah dan mudah terpengaruh. Dikatakan lemah agama karena setiap bulannya perempuan absen menunaikan ibadah wajib. Nah, tahukah teman-teman semua dibalik lemahnya perempuan? Perempuan itu lemah namun juga dapat melemahkan laki-laki. Buktinya, banyak laki-laki terjatuh hanya karena wanita. Dan menunjuk sabda Nabi perihal fitnah terbesar bagi kaum adam yakni wanita. WANITA. Jadi, ulurkan jilbabmu. Jangan malu memakai jilbab besar, jangan malu dikatakan kuper. Toh, kita sedang berusaha mengaplikasikan sunnah Rasul. Jika kalian mampu, kenakan cadarmu karena menurut saya aurat terbesar seorang perempuan adalah pada wajahnya. Hal ini lebih aman bagi kita sebagai perempuan dan hal ini tidak merendahkanmu sedikitpun serta agar kita mudah dikenali.

“Do not accept if seal is broken”. Jika kita membeli minuman akan tertera tulisan seperti itu. Yang artinya, Jangan diterima bila segel telah rusak. Pembeli tentu akan lebih memilih minuman kemasan yang masih tertutup segel. Beralasan karena lebih higienis dan terjamin kebersihannya. Seorang laki-laki yang baik juga akan memilih perempuan yang baik untuk menemani hidupnya sepanjang usia. Apalagi hal ini sangat prinsip, dimana semua orang pasti ingin menjalani pernikahan hanya sekali dalam hidupnya. Salah satu kriteria baik adalah dengan melihat tampilan luarnya. Jika tersegel (tertutup aurat) maka lebih mudah untuk mengenalinya. Sudah banyak pengakuan ke saya kalau mereka (saudara laki-laki saya, teman laki-laki saya dan laki-laki lain yang beragama Islam) lebih memilih perempuan berjilbab sebagai istri. *senyum*

Ayo berhijab … SEMANGAT

salam,
-tanti-

Di Rumah (17 Agustus – 26 Agustus 2012) adalah Waktu Paling Menyenangkan

Bismillah …

Libur kerja yang diberikan perusahaan telah usai. Libur dimulai tanggal 17 Agustus sampai dengan tanggal 26 Agustus 2012, terbilang cukup lama liburnya namun bagiku libur terasa hanya permisi lewat. Saya terlalu asyik dengan kegiatan di rumah hingga waktu terasa begitu cepat bagiku. Kesibukan membantu ibu memunculkan gejolak rindu akan ‘Baiti Jannati’. Dengan kata lain semakin malas berangkat kerja. Saya memang tidak berbakat menjadi wanita karier (ini adalah kalimat halus dari seringnya berangkat kesiangan, sering ijin, sering tidak nurut sama perintah atasan dll..hihi). Cita-cita saya sejak pertama kali mengenal ngaji yaaa… jadi ibu rumah tangga, jadi istri penyejuk hati suami dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku kelak. Aamiin.

Selama masih terkungkung dalam kebodohan saya seperti kalian-kalian ini wahai hamba hawa yang banyak terkontaminasi dengan gaya hidup kebarat-baratan yakni ingin mengejar karir, bekerja di sebuah perusahaan bergengsi dan semacamnya. Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri hingga akhirnya saya tersibukkan dengan berthalabul ‘ilmi meski sampai saat ini saya belum bisa berpisah dengan tempat kerjaku. Insyaa Allah jika sang pangeran sudah menjemputku melangkah ke pelaminan saya pasti akan segera hijrah menjadi istri penunggu rumah. Kapan yaaa?? Heheee…

“dan tinggallah kalian para wanita di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS.Al-Ahzab:33).
Cukuplah ayat diatas sebagai motivasiku untuk tinggal di rumah. Terlebih iming-iming pahala berlimpah untuk istri yang tinggal di rumah, mengurus rumah, menaati suami dalam kebaikan, mengurus anak, membimbing, dan mendidik anak serta melihat setiap gerak langkah perkembangan sang buah hati dan masih banyak hal yang bernilai pahala bagi seorang istri.
Memang tidak ada larangan untuk keluar rumah bagi seorang perempuan. Perempuan boleh saja keluar rumah jika ada kebutuhan yang mendesak namun disamping itu juga harus memperhatikan adab-adab keluar rumah. Diantara adab-adab tersebut adalah mengenakan hijabnya dengan baik dengan tidak memperlihatkan bentuk tubuh, tidak berhias, tidak memakai parfum dan wewangian. Akan lebih baik lagi jika keluar rumah disertai dengan mahramnya.
Cuti bersama dan libur kerja dalam rangka memperingati hari raya Idul Fitri 1433 H kemarin membuat hatiku berbunga. Selain liburnya yang cukup panjang, saya juga bisa mempersiapkan serba-serbi lebaran yang serba-serbi. Nah lo. Disamping itu saya bisa menikmati indahnya menjadi anak rumahan. Kerjaan rumah beres tanpa ada komando dari atasan, capek tinggal istirahat selonjoran pun tidak ada yang protes, ngantuk tinggal tidur tanpa ada yang marah-marah, bermain dan bercanda dengan ponakan, pergi kesana kemari tanpa dibatasi jam kerja dan masih banyak lagi. Lain dengan di kantor, badan capek pun harus di paksa tidak capek, ngantuk dibawa ngopi, padahal efek kopi tidaklah seberapa bagiku. Yah, mungkin karena hatiku sudah terpikat di rumah bukan di kantor lagi.
Eittt..satu lagiii. Saya dapat ilmu baru. Mau tahu? Sssttt..saya dapat rahasia tips berdagang yang jitu langsung dari sumbernya yakni dari ibu saya sendiri. Hehe.. Tidak neko-neko dan ribet. Rahasianya adalah panjatan doa pada Allah dengan berkesinambungan dan tidak patah harapan disertai dengan keuletan dan ketelatenan. Modal utama seorang pedagang adalah telaten dan sabar menghadapi pembeli atau calon pembeli.
Sriping Pisang

Sriping pisang adalah produk andalan ibu. Ikon utama dagangan ibu.

Dan…
Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan di rumah lainnya. Kegiatan dapur misalnya. Wahh.. kalau kerja mah masuk dapurnya tidak bisa berlama-lama. Padahal di dapur itu asik lo. Bisa cobain menu-menu baru dan menu yang aneh-aneh. Praktek resep-resep yang nemu di internet tentunya.
Teman-teman…
Berbahagialah kalian yang bisa menghabiskan waktu di rumah tanpa berikhtilat dengan lawan jenis. Janganlah malu jadi ibu rumah tangga karena menjadi seorang ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia lagi berpahala. Jangan pula mengeluh capek mengerjakan pekerjaan rumah, jangan pula berkeluh kesah dengan kenakalan nan lucu buah hati kita. Berbahagia lah dan lapangkanlah hatimu. Jadilah istri penyejuk hati suami dan jadilah madrasah pertama bagi anak-anakmu. *Nasihat untuk diri sendiri*.
salam
-tanti-

Ramadhan Tahun Ini Lebih Nikmat Tanpa Televisi

Gambar

Bismillah..

Alhamdulillah betapa senangnya hati ini bisa menikmati bulan Ramadhan lagi. Bulan yang selalu dirindukan kedatangannya oleh kaum muslimin di dunia. Rintik hujan turut menyambut kedatangannya, meskipun jua diiringi dengan terpaan angin yang begitu dahsyat hingga merobohkan sedikit tiang belakang rumah. Alhamdulillah hanya sedikit.

Sahur dan berbuka puasa adalah waktu dimana kita dibolehkan makan dan minum serta kegiatan lainnya yang ketika siang hari tidak bisa kita lakukan. Makanlah dengan cukup dan tidak berlebihan serta tidak rakus. Saya sendiri sudah membuktikannya. Ketika hidayah ilmu Allah belum jua masuk ke sanubari, saya sering ketika makan sahur memakan dengan lahapnya walaupun terasa kenyang masih saja ngemil bahkan minum susu sampai fajar tiba. Alhasil tetap saja siang harinya lapar bahkan lemes dan males bangun tidur. Hehe.. percuma kan makan banyak? Sudah banyak terbukti bahwa kekenyangan itu bawaannya tidur dan malas-malasan. Makanlah secukupnya dan hindari minum teh atau kopi karena dengan meminum teh dan kopi justru akan menjadikan kita haus di waktu siangnya. Percaya deh .. percaya aja deh kan itu dari sumber yang dapat dipercaya. Hihi .. *maksa*

Sahur di hari pertama puasa terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah tahun ini tidak ada kotak ajaib yakni Televisi. Loh kok bisa dinamakan kotak ajaib? Yaa..memang ajaib karena kotak persegi sekecil itu bisa merusak akhlak bahkan aqidah seseorang. Banyaknya kemaksiatan sebagai bahan tontonan sehari-hari, perempuan-perempuan telanjang menghiasi layar televisi dan hebatnya lagi bisa mengkarbit manusia lo. Tuh kan bukan hanya buah-buahan yang bisa dikarbit tapi manusia juga bisa dikarbit. Seringnya menonton televisi menjadikan anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Astaghfirullah *sambil ngelus dada*. Buang jauh-jauh kotak maksiat itu sebelum kita semakin terjatuh dan terjatuh. Untuk pertama kalinya di rumah saya tidak ada televisi satupun. Awalnya saya sudah mencoba membujuk bapak ibu untuk membuang televisi di ruang tengah keluarga kami tapi tapi.. tau sendiri kan teman-teman, jalan menuju surga itu tak senikmat jalan menuju neraka. Alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah, televisi rusak dan biaya reparasinya sangat tinggi. Akhirnya, bye bye Televisi. *Maaf ya bapak ibu, bukannya saya tidak mau membelikan tapi ini demi kebaikan bersama*.

Kini kenikmatan bulan Ramadhan semakin bertambah dengan hati yang tentram tanpa suara bising televisi. Sahur yang biasanya ditemana gelak tawa para pelawak di televisi kini lebih indah ditemani dengan murotal dari RDAM. Sembari menunggu waktu fajar bisa dimanfaatkan dengan membaca Al Quran atau dengan muroja’ah hafalan Al Quran. Alhamdulillah bapak ibu juga sudah bisa menerima keadaan tanpa televisi. Lalu bagaimana kita bisa tahu tentang berita-berita yang terjadi di sekitar kita? Saya sarankan untuk menjadi pendengar yang baik. Setel Radio yang sedang memutar berita dan informasi. Buktinya kalau di Televisi tuh kebanyakan sinetron bukan berita. 🙂

Sudah mau dhuhur teman-teman… sudah dulu yaaa, ceritanya dilanjut besok lagiii.

Doa berbuka puasa yang shahih:

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah”

Artinya : “Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki”

Menyambut Ramadhan 1433H, Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan Dalam Pandangan Sunnah

Bismillah..

Kaifa haluki ya akhwati fillah? Semoga teman-teman muslim dan muslimah seluruhnya selalu dalam lindungan Allah Ta’ala. Aamiin. Salah satu nikmat Allah yang paling besar adalah nikmat sehat dan waktu luang. Dengan tubuh yang sehat kita dapat beraktivitas dengan baik dan penuh semangat. Adanya waktu luang dapat kita manfaatkan dengan muroja’ah hafalan Al Quran maupun menambah ilmu agama dengan mendengarkan rekaman kajian maupun buku-buku yang kiranya dapat menambah keimanan kita. Waktu bergulir begitu cepat, seperti hembusan angin yang hanya berlalu mengibaskan semak-semak dedaunan. Alhamdulillah, Insyaa Allahu Ta’ala kita akan segera berjumpa dengan bulan yang telah lama dirindukan, Ramadhan.

Banyaknya pesan singkat yang bertemakan maaf-maafan semakin marak menjelang Ramadhan. Hal ini menggelitik nurani saya untuk mencari tahu adakah perintah Allah untuk bermaaf-maafan. Adakah tuntunan dalam syariah untuk meminta maaf kepada kerabat dan teman sebelum memasuki bulan yang suci ini?

Dalam majalah Asy Syariah edisi 079 bab tanya jawab ringkas disebutkan sebagai berikut:

* Apakah boleh meminta maaf kepada saudara-saudara muslim sebelum memasuki Ramadhan? Sebagaimana saat ini marak sekali, baik melalui SMS maupun media lainnya.
+6285367XXXXXX

**Apabila mengkhususkannya, tidak ada contoh dalam sunnah. Fenomena yang sedang berkembang disebabkan adanya sebagian mubaligh yang salah menerjemahkan hadits mengenai doa Jibril q yang diaminkan oleh Rasulullah n. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

*Apakah sahih hadits, “Menjelang Ramadhan, Jibril pernah berdoa, ‘Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad apabila sebelum masuk Ramadhan tidak memohon maaf kepada orang tua, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya,’ lalu Rasulullah n mengamininya sampai tiga kali?” Jazakumullah khairan.
+6281230XXXXXX

**Terjadi kesalahan dalam menerjemahkan hadits. Yang benar adalah, “Celaka seseorang yang menjumpai Ramadhan dan keluar darinya dalam keadaan dosanya belum terampuni.” Zadakumullahu ‘ilma.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Nah, sudah jelas kan teman-teman bahwa meminta maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan itu tidak ada syariatnya dan telah dinyatakan oleh Al Ustadz Affiduddin bahwa hadist yang beredar di kalangan masyarakat itu salah dalam menerjemahkannya. Jadi, marilah kita menyambut Ramadhan kita ini dengan cara dan niat yang baik. Jangan mengotori bulan yang suci ini dengan perkara-perkara yang sia-sia bahkan perkara yang diharamkan oleh Allah.

Menyambut Ramadhan itu bukan hanya membeli bahan-bahan makanan sebagai bekal sahur dan buka puasa, namun kesempatan bagi kaum muslimin untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Mari sambut Ramadhan dengan membersihkan hati dari sampah-sampah hati yang kian membelenggu, menyejukkan jiwa yang tandus, menyiapkan kebugaran jasmani agar bisa menikmati Ramadhan hingga akhir. Semangattt menyambut Ramadhan.

Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allah akan menjauh­kan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.”

Salam Sayang.

-tanti-