Mantel Rok, Lebih Syar’i dan Lebih Nyaman untuk Akhwat

Bismillah …

Alhamdulillah musim hujan telah membelai hari-hari kita dengan mesra. Hampir setiap hari di wilayah kota Cilacap dan sekitarnya diguyur hujan. Entah itu gerimis-gerimis romantis saja atau hujan lebat disertai angin badai. Masih ingatkan teman-teman amalan apa saja yang kita lakukan ketika turun hujan. Salah satunya adalah berdoa, karena ketika hujan turun menjadi salah satu waktu mustajab dikabulkannya doa. Dan, kita tidak boleh mencela hujan karena hujan adalah rahmat Allah. Kalau teman-teman lupa, saya ingatkan kembali di postingan saya yang telah lalu (disini).

Datangnya musim hujan memang kerap mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Hendaknya hujan janganlah dijadikan alasan apalagi sebagai bahan olok-olokan. Kalau kita mengaku cinta hujan, janganlah menghindar darinya. Kita tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Disiasati dengan memakai payung, mantel dan aksesoris lain yang bisa melindungi tubuh.
Sebagai seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta, saya memiliki tanggung jawab untuk ke kantor setiap hari kerja. Tidak mungkin dong kalau libur kerja hanya karena hujan. *seneng banged kalau ada peraturan gitu yaaa*. Jadi, mau tidak mau kita harus tetap ke kantor meski hujan badai menerpa. Memakai mantel untuk berkendara dengan motor adalah pilihan yang tepat.

Alhamdulillah kini saya telah memiliki mantel yang pas untuk seorang perempuan. Mantel rok. Mantel ‘egois’ biasa kami menyebutnya karena model mantel ini berupa baju atasan dan bawahan. Jadi, gag bisa dipakai berduaan. Hehe.. Kini semakin bervariatif baik motif ataupun bentuknya. Mantel yang bawahannya berupa rok inilah yang paling pas untuk kaum hawa. Terbukti! mantel ini lebih nyaman dipakai. Kenapa saya berani bicara lebih nyaman? Karena saya sendiri sudah membuktikannya. Daaaan.. teman-teman saya baik teman kerja maupun teman ngaji juga sudah membuktikannya.

Meskipun hujan lebat, jika kita memakai mantel rok, insyaaAllah pakaian yang kita kenakan tidak basah. Hal ini dikarenakan tidak adanya sela-sela jahitan pada bagian tengah mantel seperti halnya pada mantel celana. Bagian jahitan yang di tengah-tengah celana itu akan merembeskan air hujan yang jatuh ke badan kita. Hal ini membuat pakaian kita basah. Saat di kantor, teman-teman yang memakai mantel rok pakaiannya kering tapi kalau yang memakai mantel celana bagian tengah celananya juga basah. Nah kan lebih nyaman pakai mantel rok tho! Lebih pas buat perempuan, lebih syar’i pula. *senyum*

(fotonya nunggu yaaa.. )

Advertisements

Ketika Bos Naik Haji

Bismillah …

Alhamdulillah tanggal 07 Oktober 2012 lalu atasan saya beserta istri telah tiba di tanah air setelah berhari-hari menunaikan rukun Islam yang kelima. Mudah-mudahan orang-orang yang mampu lainnya bisa tergugah hatinya untuk mengikuti jejak baik atasan saya ini. Beliau adalah Pak Irvan beserta istrinya. Saya dan teman-teman kantorpun beranjak untuk berziarah ke rumah beliau. Eittt.. bukan mau minta oleh-oleh lho yaaa *dikit ngarep sih*. Berziarah ke rumah orang yang baru pulang haji salah satu tujuannya adalah untuk menumbuhkan keinginan yang kuat untuk menyusulnya ke tanah suci (memantapkan niat untuk berhaji, tidak putus asa untuk mengunjungi Baitullah). Selain itu, kita juga dapat menimba ilmu darinya. Alhamdulillah, Pak Irvan beserta istri bukanlah orang yang pelit untuk berbagi ilmu dan pengalaman sehingga semangat ‘menabung’ haji kembali membara. Bukankah orang yang mampu itu belum tentu kaya? Orang yang kaya juga belum tentu mampu.

Menunaikan rukun Islam yg kelima memang tidak semua orang mampu menjalankannya. Dalam hal ini bukan semata-mata mampu dari segi ekonomi (biaya haji) buktinya, banyak di sekitar kita orang kaya raya tapi mereka belum ‘berani’ menunaikannya. Dan, ada pula yang rumahnya gubuk namun sudah mampu berhaji. Di sisi lain, banyak orang yang sangat ingin berkunjung ke tanah Mekkah namun terbentur biaya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Berhaji menghabiskan waktu kurang lebihnya 40 hari (kecuali haji plus). Otomatis selama kurun waktu itu atasan kami meninggalkan kantor untuk memenuhi panggilan Allah. Daaaaan pastinya di kantor itu TIDAK ADA BOS. Asiiik.. Upss.. maksud sayaaaa.. hmmm.. yaaa gitu deh. Bukannya senang tidak ada bos tapi ya bisa dibilang bisa lebih ikhlas kerjanya. Loh kok bisa? Kalau ada bos secara tidak langsung kita bekerja bukan dengan maksud ibadah namun karena ada yang mengawasi yakni atasan kita. Ketika atasan tidak ada di kantor kita lebih rileks dan santai kerjanya. Sebagian besar kenyataannya memang seperti itu bukan? Kita akan bekerja dengan rajin bahkan sampai cari muka di hadapan boss namun ketika atasan keluar/tidak berada di tempat, kerjanya bersantai-santai ria bahkan merasa bebassss. *Jangan ikut-ikutan yaa*. Ya.. Begitulah manusia, suka mencari muka untuk kepuasannya sendiri. Suka bermanis muka untuk mencuri perhatian bos.

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap bos semesta alam, Allah Ta’ala? Sudahkah kita bermanis-manis untuk mencuri perhatian agar makin dicintai oleh Allah? Jika kita melakukan suatu pekerjaan kantor dengan sungguh-sungguh hanya karena ada atasan yang mengawasi, seharusnya kita dalam melakukan kewajiban sebagai hamba Allah lebih bersungguh-sungguh menjalankannya karena ada atasan semesta raya yang tidak pernah tidur dalam mengawasi kita dan seluruh makhlukNya.

Ketika atasan kantor memanggil kita, dengan cepat kita melangkah agar beliaunya tidak marah. Sudahkah kita berlari-lari mengejar panggilan Allah? Jika adzan berkumandang, sebagian kita ada yang menyelesaikan kerjaan dululah, nanggung lah, nanti dulu lah, mau ini itu dulu lah dan macem-macem alasan untuk memenuhi panggilan Allah tepat waktu. Tanpa berpikir kalau Allah akan marah.

Teman-teman.. Mari kita luruskan lagi niat kita dalam beribadah. Ibadah itu adalah nutrisi hati, bukan ajang untuk riya. Tautkan dalam hati bahwa Allah sebagai pencipta dan pengatur semesta ini tidak pernah tidur dalam mengawasi seluruh hambaNya. Jika kita sungkan untuk melanggar aturan-aturan atasan, seharusnya kita lebih sungkan kepada Allah yang mengatur semesta. Jika takut atasan kita akan marah jika kita membangkang, seharusnya kita lebih takut jika Allah marah karena ulah kita sendiri. Yukk teman-teman saatnya kita berbenah. *senyum

salam
-tant-

                                                ~Parfum oleh-oleh haji~