Janganlah Agama Itu Dijadikan Bahan Olok-Olokan


Bismillah ..

Ngelus dada dulu sebelum nulis, soalnya nulis sambil manyun nih. Sabarrr.. daripada marah-marah ke orang nggak jelas dan kurang ilmu mending saya marah-marah disini. Ups.. maksud saya curhat disini. *senyum*

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At Taubah 9 : 65-66)

Tahukah Anda sebab turunnya ayat ini?

Dahulu ada sekelompok manusia yang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Di dalam suatu majelis mereka mengatakan,

“Kita tidak pernah melihat seperti para pembaca Al Qur’an kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya, paling penakut ketika bertemu musuh”,

Yang mereka maksudkan dengan ucapan mereka itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Pada waktu itu di antara mereka ada seorang dari kalangan sahabat, maka sahabat ini pun marah dengan ucapan mereka ini. Dia pun pergi dan melaporkan apa yang terjadi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelum dia sampai kepada Rasulullah, wahyu telah turun mendahuluinya.

Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta maaf. Berdirilah salah seorang dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan,

“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa penat dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau,”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikit pun kepadanya dan beliau hanya membacakan ayat tadi.

Kalau ada yang mengatakan, “Ini kan cuma bercanda, orangnya kan mungkin tidak punya niat untuk mencela atau merendahkan. Cuma guyon saja kok..”

Maka kita katakan bahwa kasusnya sama saja dengan kisah Perang Tabuk yang telah kita sampaikan di atas. Orang yang mengolok-olok Rasulullah dan para sahabat tadi juga mengemukakan alasan yang serupa,

“Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.”

Oleh karena itu saudaraku seiman, hendaknya kita jaga lisan dan sikap kita dari menjadikan perkara agama, atau simbol-simbol agama sebagai bahan candaan dan olok-olok.

Apakah tidak ada bahan candaan lain sehingga perkara yang semestinya kita agungkan dan kita sakralkan ini pun kita jadikan bahan olok-olok?

(sumber: rizkytulus.wordpress.com)

Perkara agama dijadikan bahan olok-olokan kini semakin menjadi hal yang biasa. Parahnya lagi, yang menjadikan agama sebagai bahan candaan dan olok-olokan adalah orang Islam itu sendiri. Naudzubillah. Itulah salah satu nikmat ilmu sebagai pelindung kita dari hal-hal yang dianggap kecil namun berakibat fatal.

Seperti yang sering kita saksikan di kalangan masyarakat bahwa perempuan yang memakai cadar sering diejekin “ninja..ninja atau bahkan kuntilanak” dan lelaki yang berjenggot dengan memakai celana di atas mata kaki diejekin dengan “si jenggot atau aliran katok cungklang (celana di atas mata kaki) bahkan ada yang memanggilnya embek (suara kambing)”. Naudzubillah.. perkara ini adalah penghinaan besar terhadap sunnah Nabi. Sedihnya lagi, yang melakukan perkara tersebut adalah orang Islam yang melakukan sholat dan mereka tidak merasa berdosa sama sekali. Ingatlah bahwa pakaian yang baik di mata masyarakat belum tentu baik di mata Allah. Seharusnya mereka patut berbangga dan berusaha meniru mereka yang telah mampu mengamalkan ajaran Nabinya. Bukan malah mengolok-olok dan mengejeknya.

Teman-teman, tahukah kalian bahwa perkara di atas adalah termasuk bentuk ISTIHZA’ yakni berolok-olok dalam perkara agama yang dilarang keras di dalam Islam bahkan ditakutkan pelakunya bisa murtad, keluar dari Islam.

Mengapa bisa menyebabkan pelakunya murtad?

Seperti yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, bahwa “Sesungguhnya berolok-olok dengan Allah, ayat-ayatNya dan rasul-Nya mengeluarkan seseorang dari agama karena pondasi agama ini dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, pengagungan terhadap agama dan Rasul-RasulNya. Maka berolok-olok dengan perkara tersebut menafikan pondasi agama dan benar-benar membatalkannya.” (Tafsir As Sa’di, At Taubah: 65-66).

Mari kawan-kawan kita filter lagi bahan candaan kita. Carilah bahan gurauan dengan tidak membawa agama dan sunnah Nabi. Bagi akhwat yang sedang belajar mengenakan hijab dan cadar seperti saya ini jangan menyerah, tak usah hiraukan omongan dan olokan dari tetangga dan kerabat. Menggenggam bara api itu memang butuh perjuangan dan kegigihan, tetaplah berpegang teguh dengan agama dan ajaran Islam.

Dan bagi ikhwan yang berjenggot dan celana ngatung, tetaplah istiqomah di atas sunnah. Jangan gontai akan terpaan badai lidah yang pahit.

-tanti-

2 thoughts on “Janganlah Agama Itu Dijadikan Bahan Olok-Olokan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s