Perlukah Sebuah Kajian Ilmu Disampaikan Berulang?


Suatu hari aku pernah ditanya oleh kakakku sendiri, kira-kira seperti ini pertanyaannya, “Ngaji ngono-ngono ae kur diwolak-walik bahasanne, ra ono kegiatan liyo tah selain ngaji?”. Hemm… aku sudah tahu persis watak dan sifat kakak tertuaku ini dan yang paling dominan adalah sikap maunya menang sendiri alias ‘sak karepe ndek e’. Jadi, walaupun kita mengelak sampai berotot juga tidak akan bisa menandingi dan hanya buat capai hati. Lebih baik menanggapinya dengan santai. Pertanyaan seperti itu cukup ku jawab dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui, contohnya : “Daripada dolan-dolan ora jelas yo mending ngaji” (Daripada main-main tidak jelas ya lebih baik mengaji).

Islam adalah agama yang sempurna. Semua aspek kehidupan telah diatur sedemikian rupa. Sejarah tercatat rapi dan dijamin kevalidannya karena Allah lah yang membuatnya dan mengabadikannya dalam kitab suci Al Quran yang wajib kita pedomani. Bahkan kejadian yang akan datang pun telah tertulis di dalamnya. Maha Besar Allah pemilik alam semesta ini. Tidak ada satu zat pun yang mampu menandinginya bahkan untuk menandingi satu ayat Al Quran pun tidak ada yang mampu.

Lalu, dengan cara apakah kita mengais ilmu-ilmu Allah jika tidak dengan menghadiri majelis ilmu? Mengambil manfaat dan mengamalkan ilmu yang telah kita dapat. Subhanallah. Sungguh, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Mempelajari akidah agar hidup kita lebih terarah, mengambil manfaat ilmu agar hidup kita tidak sia-sia dan mendapat ketenangan hati karena bergaul dengan orang-orang alim.

Perlukah sebuah kajian ilmu disampaikan berulang-ulang? Menurutku itu sangat perlu. Jika ilmu-ilmu tentang sains saja harus disampaikan berulang kali agar anak didiknya mengerti dan memahami apalagi ilmu Allah sebagai bekal kita di akhirat nanti. Sebagai seorang awam, masih banyak hal yang perlu aku pelajari. Mempelajari dan memahami saja tidak cukup tanpa kemantapan niat dan kemauan keras dari diri kita sendiri. Kajian ilmu disampaikan berulang kali saja kita masih lalai untuk menjalankannya, bagaimana jika hanya disampaikan sekali? Coba, Anda renungkan sendiri.

Intinya, aku senang berada di tengah-tengah orang yang berilmu. Ada sepercik keteduhan dan kesejukan hati. Bersama mereka, teman-temanku di majelis ilmu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s