Larangan Mencela Hujan part II


Sungguh sangat disayangkan sekali jika seseorang sudah mengetahui bahwa hujan itu adalah nikmat Allah, namun ketika hujan turun dan dirasa menganggu aktivitasnya, mereka justru menghujaninya dengan kalimat celaan. “Yah… hujan lagi, hujan lagi. Sial!”

Naudzubillah, semoga kita semua dijauhkan dari kalimat celaan seperti itu yaa… Perlu diketahui juga bahwa setiap ucapan manusia baik yang baik (bernilai pahala) dan ucapan yang buruk (bernilai dosa) semua masuk dalam catatan malaikat. Tersurat dalam firman Allah ta’ala dalam Al Quran surat Qaaf ayat ke 18 :

”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)

Rasulullah juga bersabda tentang akibat dari ucapan lidah yang tak bertulang,

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”

Sudah tertera jelas bahwa setiap ucapan itu ada konsekuensinya, setiap kalimat yang kita ucapkan dapat mengantarkan kita ke surga jika ucapan kita bernilai pahala dan mengantarkan kita ke neraka jika ucapan kita buruk (mendatangkan mudharat/dosa) meskipun ucapan itu kita ucapkan tanpa kita sadari. Hendaknya setiap kita jika ingin berucap sesuatu sekecil apapun, disadari dan dipikirkan terlebih dahulu. Sudah seharusnya lisan ini dijaga, jangan sampai kita mengeluarkan kata-kata yang membuat Allah murka.

Mencela hujan tidak terlepas dari hal yang terlarang karena dengan mencela hujan berarti juga mencela dzat yang menciptakan hujan, yakni Allah Ta’ala. Semestinya yang dilakukan seorang hamba ketika hujan turun adalah banyak bersyukur dan mengambil hikmah atas nikmat turun hujan sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya (disini).

Lain halnya jika digunakan sebagai pemberitahuan, seperti : “Maaf, karena tadi malam hujan begitu lebat, ana tidak jadi ke rumah antum.” Maka yang seperti ini tidaklah mengapa karena dalam hal ini tidak dimaksudkan untuk mencela hujan.

Ayo kawan semua… jangan lagi-lagi yaa mengkambinghitamkan hujan sebagai penghalang aktivitas. Hamazah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s