Ngapak, kenapa tidak?


Sebagai orang Jawa Tengah lebih spesifik lagi saya tinggal di Cilacap, wilayah Banyumas. Bahasa yang digunakan dalam keseharian adalah bahasa ngapak. Mungkin sebagian kalian ada yang belum tahu seperti apa itu bahasa ngapak? Atau pernah mendengar tapi tidak paham itu bahasanya.

Bahasa ngapak atau bahasa Banyumasan adalah salah satu bahasa daerah di Jawa Tengah, tidak semua wilayah Jawa Tengah yang menggunakan bahasa ngapak sebagai bahasa sehari-hari, bahasa ngapak lebih ke daerah Jawa Tengah yang mendekati Jawa Barat. Sama seperti bahasa jawa pada umumnya yang paling membedakan adalah pada penempatan huruf “O” menjadi “A” dan dengan nada yang sedikit keras serta intonasi yang lebih cepat.

Contoh:

“Ono opo to?” menjadi “Ana apa ya?”,

“Piye to?” menjadi “Kepriwe ya?”

Dan masih sangat banyak lagi contoh-contoh yang lain dan tentunya bukan pada penempatan huruf “O” menjadi “A” saja.

Meskipun sering diejekin dengan gaya bahasanya yang kasar dan intonasi bicaranya lebih cepat, saya kira bahasa ngapak bukanlah hal yang memalukan. Saya memang asli orang ngapak, lahir di kota ngapak namun sempat tumbuh besar selama 12 tahun di daerah Kutoarjo yang notabene bahasanya adalah bahasa jawa halus. Memang, saya sering mendengar dan melihat sendiri mereka menertawakan orang yang memakai bahasa ngapak sebagai bahasanya. Bahkan ada yang buka-bukaan mengejeknya, mengejek bahasa ngapak. Apa yang salah dengan ngapak?

Sekali lagi, bahasa ngapak itu bukan bahasa yang memalukan. Sudah seyogyanya kita melestarikan budaya daerah sendiri, apa jadinya bila kita sebagai orang daerah tidak paham dengan bahasa daerahnya sendiri? Bahkan masih banyak kosakata bahasa daerah yang tidak di mengerti oleh masyarakat daerah itu sendiri. Dan, tidak sepantasnya sebagai orang yang mengaku berpendidikan mengolok-olok bahasa daerah orang lain, merendahkan bahasa daerah oranglain. Bukankah sudah banyak contoh kasus bahwa budaya asli Indonesia yang diakui negara lain? Saya harap hal demikian tidak akan terulang kembali. So, mari kita lestarikan budaya yang ada. Hendaknya setiap orang tua mengenalkan bahasa daerahnya sejak dini, tentu dengan tidak meninggalkan bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia.

2 thoughts on “Ngapak, kenapa tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s