Spesial “8”


Angka ‘8’ (delapan) memiliki kekhususan sendiri untuk masyarakat china maupun keturunan china. Ada apa dengan angka ‘8’ ? Ini sekelumit cerita saya sebelum lebaran dan selidikan saya pada Mba Siska ‘Markonah’, rekan seperjuangan di kantor.

Kebetulan waktu itu memasuki hari-hari terakhir bulan Ramadhan 1432H saya menyempatkan diri berkunjung ke sebuah salon di dekat terminal kota Cilacap. Jangan salah, saya bukan hendak melakukan perawatan seperti yang wanita-wanita ‘cantik’ itu kerap lakukan, saya hanya membeli vitamin rambut. Lalu, apa hubungannya angka ‘8’ dengan salon?

Ehh… tunggu dulu teman-teman, jangan kabur dulu.

Sewaktu membeli vitamin rambut itulah saya ngobrol-ngobrol dengan Tante (panggilan untuk perempuan china yang lebih tua jarak usianya) dan sampai di obrolan tentang tempat kerja saya. Ternyata sepupunya Tante juga ada yang bekerja di gedung di mana saya mengais rizki. Siska namanya. Kebetulan saya kenal dengannya dan sering bertemu di toilet, nah lo … sama-sama besernya.

Ramadhan telah usai.

Lalu, pada hari minggu setelah hari raya saya menyempatkan diri bersama ibu dan keponakan saya untuk sekedar berjalan-jalan menghibur keponakan saya yang sedang liburan di Cilacap itu. Ke Borobudur Plaza tepatnya, bermain-main di timezone. Angkutan kota dari terminal itu hanya menurunkan penumpangnya di perempatan Jl. A. Yani jadi untuk sampai di Borobudur Plaza kami harus berjalan beberapa meter. Sembari menikmati pemandangan jalanan yang penuh dengan orang-orang jualan, dari mulai baju, kacamata, reparasi jam, toko elektonik, counter dan masih banyak lagi, saya sengaja ingin mencari kediaman Mba Siska itu yang katanya membuka counter HP dan accesoriesnya.

Hemm .. rupanya mba Siska sedang asyik melayani pelanggannya, penuh keramahan dan keluguan. Dan, mata saya tertuju pada satu tulisan di papan nama counter tersebut. 88 cell. Hah, ada apa dengan angka 8? Angka 8 selama beberapa hari terus menerus menghantui rongga-rongga pikiranku. Rasanya tak sabar ingin segera selesai cuti bersama, masuk kantor dan segera menemui mba Siska untuk menanyakannya.

Memasuki hari -hari kerja.

Satu minggu setelah memasuki hari kerja, saya baru menyempatkan waktu menanyakan hal ini.

Beginilah jawaban dari mba Siska.

Ternyata, angka “8” bagi orang cina adalah sebuah rejeki yang tidak ada putusnya, terus menyambung dan terus mengalir tanpa terputus. Mereka memiliki anggapan tersebut karena mereka melihat garis pada angka “8” yang tidak ada putusnya dan berkesinambungan. Angka “8” sering digunakan sebagai simbol kehokian karena dianggap memberi rejeki yang banyak dan mengalir terus menerus.

Yaa.. saya jadi berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa :

Garis pada angka “8” itu tidak pernah berhenti, menandakan bahwa untuk mendapatkan rejeki atau kesuksesan kita harus bekerja keras tanpa kenal putus asa. Karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau berusaha. Bukan begitu teman-teman?

Sekian tentang angka 8, saya bukan ingin menghimbau teman-teman untuk mempercayai angka delapan. Namun, ambillah filosofi di dalamnya bahwa untuk menjadikan sesuatu yang lebih dibutuhkan kerja keras tanpa kenal putus asa dan sertakanlah doa dalam setiap langkah. Tawakkal yang baik adalah ketika kita mau berusaha dan hasilnya diserahkan kepada Allah yang Maha Segalanya.

Selamat berjuang teman-teman.

2 thoughts on “Spesial “8”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s